29.5 C
Jakarta
Dec 7, 2019.
Image default

Steel Cord Belt, Conveyor Belt Tangguh dari Bando Indonesia

    Daniel Fransiscus selaku Mining Asst. Sales Manager PT Bando Indonesia (kanan), bersama timnya memegang contoh produk Bando steel cord belt pada acara Mining & Construction Indonesia 2019 di Jakarta, Jumat (20/9)

Mendukung kelancaran produksi batu bara di tanah air, PT  Bando Indonesia memperkenalkan conveyor belt baru, yaitu steel cord belt, yang terbukti lebih tegang dan kurang mulur, sehingga lebih tahan lama dibandingkan fabric belt. Produk ini merupakan gabungan karet dan kawat baja pada bagian tengahnya.  

Daniel Fransiscus, Mining Asst. Sales Manager PT. Bando Indonesia, mengatakan introduksi conveyor belt Bando yang baru ini untuk mendukung kelancaran proses produksi material tambang, baik batu bara maupun mineral.  “Conveyor belt yang membentang di atas tanah merupakan solusi paling efektif dan efisien untuk pengangkutan material tambang dalam jumlah besar dan terus-menerus,” ungkapnya.

Steel cord belt Bando ini menggantikan produk sebelumnya berupa fabric belt. Yang membedakan keduanya, menurut Daniel, adalah lapisan bagian tengahnya. “Bagian tengah fabric belt menggunakan fabric atau Carcass.  Sementara steel cord belt  menggunakan kawat dari besi atau baja.

Steel cord conveyor belt  sangat baik untuk aplikasi-aplikasi jarak jauh dan mengangkut material-material yang kasar. Conveyor belt ini memiliki daya tahan tinggi yang bersumber dari sambungan-sambungan dan ikatan-ikatan yang kuat antara steel cord (kawat baja) dan karet, yang memungkinkannya memiliki daya tahan tinggi sehingga usia pakainya lebih lama, termasuk dalam kondisi yang menantang sekalipun,” Daniel menjelas keunggulannya.

Dari segi tension (ketegangan), steel cord belt lebih tinggi daripada material carcass. Itu berarti Steel cord belt ini kurang elastis dibandingkan fabric belt. “Tingkat elastisitas merupakan salah satu faktor yang menentukan life time dari conveyor belt. Kalau cepat melar atau terlalu elastis, belt conveyor akan cepat kendor atau rusak, yang mengakibatkan material tumpah,” ujarnya.

Sebagai informasi tambahan, tingkat kemuluran material fabric sekitar 1,6 persen dari panjangnya. Sementara kemuluran steel cord belt hanya 0,2 persen. Menurut Daniel, fabric belt bisa saja digunakan pada saluran yang panjang. Namun, karena tingkat kemulurannya tinggi, conveyor belt ini mudah kendor. Kalau sudah kendor, tidak ada pilihan lain selain diganti atau dipotong, lalu disambung kembali. “Proses perbaikan ini pasti memakan waktu dan biaya, di samping mengganggu proses produksi tambang secara keseluruhan. Padahal dampak penyetopan (shut down) operasi tambang dalam satu hari saja sangat luar biasa.”

Steel cord belt tentu bukan tanpa masalah. Sebagus-bagusnya sebuah produk, kalau dioperasi secara terus-menerus tanpa jeda untuk mengangkut material berat, sekali waktu pasti mengalami kerusakan. Namun, karena terbuat dari material yang berdaya tahan tinggi, conveyor belt ini tidak mudah kendor sehingga usia pakai lebih lama.

Menurut Daniel, steel cord belt menyasar pekerjaan pengangkutan di sektor tambang yang saluran (line) conveyor-nya panjang. “Biasanya penggunaan steel cord belt untuk saluran yang panjangnya rata-rata di atas 1 kilometer. Kalau lebih pendek dari itu, lebih bagus menggunakan material fabric,” ujarnya.

Selain untuk aplikasi tambang batu bara dan mineral, sektor lain yang cocok menggunakan conveyor belt jenis steel cord ini adalah pabrik semen.

Teknologi steel cord belt anyar ini dikembangkan oleh Bando Jepang dan sudah dilakukan alih langsung langsung kepada Bando Indonesia. Saat ini produk tersebut sudah diproduksi oleh Bando Indonesia. Daniel menginformasikan bahwa sampai saat ini Bando Indonesia hanya bisa memproduksi untuk lebar hingga 1600 mm. Kalau yang lebih lebar dari itu masih diimpor dari Jepang. Sementara ketebalannya bergantung pada permintaan pelanggan. @

 

Related posts