Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Iklan Multi
Iklan Multi
Example 728x250
BusinessPress ReleaseTop News

United Tractors Membukukan Laba Bersih Rp7,8 Triliun di Triwulan Ketiga 2021

64
×

United Tractors Membukukan Laba Bersih Rp7,8 Triliun di Triwulan Ketiga 2021

Share this article
Example 468x60

PT United Tractors Tbk membukukan pendapatan bersih sebesar Rp57,8 triliun atau naik sebesar 24% dari Rp46,5 triliun pada periode yang sama tahun 2020. Seiring dengan peningkatan pendapatan bersih, laba bersih Perseroan meningkat 46% menjadi Rp7,8 triliun dari sebelumnya sebesar Rp5,3 triliun pada 2020, menurut Laporan Keuangan Konsolidasian hingga triwulan ketiga 2021 yang dirilis perusahaan itu pada Kamis, 28 Oktober 2021.

Kenaikan pendapatan tersebut disumbangkan oleh berbagai segmen usaha yang dimiliki Perseroan saat ini. Kontribusi terbesar bersumber dari segmen Kontraktor Penambangan (42%), disusul Mesin Konstruksi (27%), Pertambangan Batu Bara (18%), Pertambangan Emas (11%) dan Industri Konstruksi (2%).

ALTRAK

Segmen usaha Mesin Konstruksi mencatat peningkatan penjualan alat berat Komatsu sebesar 84% menjadi 2.194 unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1.191 unit. Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat juga mengalami peningkatan sebesar 18% menjadi Rp5,6 triliun. Berdasarkan riset pasar internal, pangsa pasar Komatsu sebesar 21%.

Penjualan UD Trucks mengalami peningkatan dari 154 unit menjadi 340 unit, dan penjualan produk Scania naik dari 129 unit menjadi 471 unit. Secara total, pendapatan bersih dari segmen usaha Mesin Konstruksi naik sebesar 54% menjadi Rp15,8 triliun dibandingkan Rp10,3 triliun pada periode yang sama tahun 2020.

Segmen usaha Kontraktor Penambangan yang dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA), hingga September 2021, membukukan pendapatan bersih sebesar Rp24,2 triliun, naik 9% dari Rp22,1 triliun pada periode yang sama pada tahun 2020. PAMA mencatat peningkatan volume produksi batu bara sebesar 2% dari 85,3 juta ton menjadi 87,3 juta ton, dan sedikit penurunan pada volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) dari 632,4 juta bcm menjadi 630,0 juta bcm.

Baca Juga :  Mengenal Lebih Dekat Artic Volvo A40G

Segmen usaha Pertambangan Batu Bara yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA), sampai dengan September 2021, total penjualan batu bara mencapai 7,7 juta ton, termasuk 1,9 juta ton batu bara metalurgi, atau meningkat 8% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 sebesar 7,1 juta ton. Sejalan dengan peningkatan volume penjualan dan rata-rata harga jual, pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara meningkat sebesar 36% menjadi Rp10,3 triliun.

Segmen usaha Pertambangan Emas yang dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) yang mengoperasikan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, hingga September 2021, total penjualan setara emas dari Martabe mencapai 258.000 ons, naik 1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 sebanyak 256.000 ribu ons. Sejalan dengan peningkatan volume penjualan dan rata-rata harga jual emas, pendapatan bersih segmen usaha Pertambangan Emas naik 17% dari Rp5,5 triliun menjadi Rp6,5 triliun.

Segmen usaha Industri Konstruksi yang dijalankan oleh PT Acset Indonusa Tbk (ACSET), sampai dengan September 2021, membukukan pendapatan bersih sebesar Rp1,1 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp958 miliar pada periode yang sama tahun 2020. ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp386 miliar, turun dibandingkan rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp753 miliar. Kerugian bersih terutama disebabkan oleh perlambatan beberapa proyek yang sedang berlangsung dan berkurangnya peluang proyek-proyek konstruksi selama pandemi.

Pada Agustus 2021, ACSET memperoleh Rp1,5 triliun dari penerbitan ekuitas baru, untuk mengurangi utang dan memperkuat struktur permodalannya. Setelah penerbitan ekuitas baru, kepemilikan Perseroan pada ACSET meningkat dari 64,8% menjadi 82,2%.

Di segmen Usaha Energi, sejalan dengan strategi pengembangan usaha di sektor energi yang ramah lingkungan, Perseroan telah menetapkan bisnis Energi Baru dan Terbarukan sebagai salah satu strategi transisi Korporasi. Perseroan melalui anak usahanya, PT Energia Prima Nusantara, telah memasang Rooftop Solar Solar PV di sejumlah fasilitas dalam grup Perseroan dan Astra mencapai 1,2MWp. Sampai dengan akhir tahun 2022, ditargetkan akan ada penambahan instalasi baru sebesar 10MWp dan akan meningkat di tahun berikutnya.

Baca Juga :  7 Pertanyaan Penting Seputar Asuransi Alat Berat

Perseroan juga melakukan studi pengembangan beberapa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Potensi proyek yang dibidik berada di area Sumatra dan Sulawesi, masing-masing memiliki kapasitas di atas 10MW. Untuk kapasitas yang lebih kecil, Perseroan telah membangun dua Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) yaitu PLTMH Kalipelus berkapasitas 0,5 MW di Jawa Tengah dan PLTM Besai Kemu di Lampung. PLTM Besai Kemu yang memiliki kapasitas sebesar 7MW saat ini dalam proses konstruksi dan diperkirakan akan beroperasi pada akhir tahun 2022. Selain itu, Perseroan juga sedang mengembangkan beberapa proyek PLTM lainnya dengan total potensi lebih dari 18MW di area Sumatra.

Selain proyek Energi Terbarukan yang telah disebutkan, Perseroan juga aktif melakukan studi, tinjauan dan MoU untuk mengembangkan jenis energi terbarukan lainnya seperti Floating Solar PV, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Hybrid Solar PV dan Battery Storage, serta Waste to Energy. (Sumber: UT)

Iklan Berca