34.8 C
Jakarta
Nov 26, 2020.
Feature Top News

Asia Pasifik: Berjuang Untuk Pulih Dari Covid-19

Pembangunan di kawasan Asia Pasifik (APAC) sudah terdampak oleh pandemi Covid-19, seperti yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya. Walaupun krisis, terdapat kantong-kantong pertumbuhan potensial di kawasan ini  yang bergantung pada komitmen terhadap pembangunan infrastruktur, pariwisata dan kesehatan ekonomi secara umum, sebagaimana dilaporkan khl.com (14/9) berikut ini.

Melemahnya harga minyak dan pasar real estat baru-baru ini, serta meningkatnya pengangguran, telah berdampak luas terhadap perekonomian di berbagai belahan dunia.

Pandemi global bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi kawasan APAC. Melemahnya harga minyak dan pasar real estat baru-baru ini, serta pengangguran yang terus meningkat, telah berdampak pada bagian dunia yang telah mengalami ekspansi ekonomi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut data dari Bank Dunia, pertumbuhan (ekonomi) di kawasan APAC diproyeksikan turun menjadi 0,5% pada tahun 2020, tingkat terendah sejak 1967. Pertumbuhan China diperkirakan melambat menjadi 1% tahun ini, tetapi kemudian pulih menjadi 6,9% pada tahun 2021 karena secara bertahap aktivitas-aktivitas ekonomi menjadi normal setelah penguncian (lockdown) dicabut di berbagai belahan dunia.

Aktivitas-aktivitas ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik lainnya diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 1,2% pada tahun 2020 ini sebelum meningkat menjadi 5,4% pada tahun 2021. Di antara negara-negara ekonomi utama di kawasan ini, Malaysia, Filipina, dan Thailand diperkirakan mengalami kontraksi terbesar tahun ini.

 China menggerakkan pertumbuhan konstruksi kawasan

Provinsi Wuhan adalah pusat pandemi Covid-19, namun China telah memulai kembali pembangunan proyek-proyek utamanya sekitar 90% sejak virus itu terkendali.

Penggerak pertumbuhan ekonomi di kawasan APAC tentu saja China. Meski sempat menjadi episentrum pandemi Covid-19, Tiongkok telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam beberapa bulan terakhir, yang didukung oleh investasi di bidang infrastruktur.

Menurut laporan perusahaan data dan analitik GlobalData, investasi dalam pengembangan real estat juga tumbuh, meningkat 7% dari tahun ke tahun pada bulan April. Hal ini signifikan, menyusul pertumbuhan tipis 1,1% pada Maret dan kontraksi 16,3% selama dua bulan pertama tahun 2020.

Melansir seorang pejabat di Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), China telah memulai kembali pembangunan proyek-proyek utama di bawah 95%. Semua proyek kereta api besar telah mulai dikerjakan kembali, dengan 97% proyek jalan raya dan saluran air utama dan 87% proyek bandara juga dilanjutkan konstruksinya.

Negara-negara Asia Timur Laut lainnya mengalami ekspansi output konstruksi pada angka 1,1% pada tahun 2020, turun dari prediksi pertumbuhan 4,2% awal tahun ini.

“Gangguan-gangguan perdagangan kemungkinan akan menimbulkan tantangan besar bagi ekonomi-ekonomi berorientasi ekspor seperti Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, dan pada tingkat yang lebih rendah di Jepang dan China, karena banyak perusahaan mengurangi ekspansi karena masalah arus kas, sehingga memengaruhi sektor konstruksi industrial secara buruk,” kata Dhananjay Sharma, analis sektor konstruksi di GlobalData.

Di Korea Selatan, di mana metode penelusuran dan pengujian dilakukan secara luas, pemerintah telah berhasil membatasi penyebaran virus corona, nilai total pesanan konstruksi yang diterima masih turun sebesar 11,8% selama empat bulan pertama.

Industri konstruksi Hong Kong sudah melemah sebelum wabah Covid-19, dengan produksi menyusut 9,3% pada 2019, menurut laporan tersebut. Situasi memburuk di tengah krisis dan ketegangan baru dengan China. Perang dagang pemerintah AS dengan China dan pencabutan status khusus Hong Kong diperkirakan akan menurunkan investasi dalam konstruksi industrial di sana.

“Digerakkan oleh pemulihan ekonomi yang terjadi di China, (konstruksi di Asia Timur Laut) diharapkan tumbuh 5,7% pada 2021, dan tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 4,2% selama 2021-2024, karena pemerintah lebih fokus pada infrastruktur era baru, yang meliputi jaringan 5G dan pusat-pusat data,” kata Sharma.

Pergumulan pasar konstruksi Asia Tenggara

Pembangunan jalan menjadi prioritas utama di sebelah utara wilayah Ladakh Himalaya menyusul sebuah pertemuan para pejabat untuk mendiskusikan pertikaian politik baru-baru ini dengan China

Bahkan sebelum pandemic Covid-19, konstruksi di Asia Selatan dan Asia Tenggara telah melambat, yang disebabkan oleh perlambatan pasar real estat di banyak negara, termasuk India.

Sebelum wabah Covid-19, kawasan itu diharapkan mendapatkan kembali sebagian momentum pertumbuhannya pada tahun 2020 dengan membukukan ekspansi 6%. Namun, dengan gangguan yang meningkat di daerah tersebut, industri ini sekarang diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 4,3%.

Selain India, terdapat tanda-tanda kelemahan di Malaysia, Vietnam dan Thailand, khususnya di segmen real estate.

Data kuartal pertama untuk beberapa negara di kawasan ini menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan, dengan Thailand mengalami kontraksi tertinggi sebesar 9,9%, diikuti Malaysia dengan kontraksi 7,7%, India 7,5%, Singapura 4%, dan Filipina dengan kontraksi diperkirakan 3,4%.

Pertumbuhan positif diperkirakan akan terjadi di Indonesia dan Vietnam, akan tetapi, bahkan di negara-negara ini tingkat pertumbuhan telah melambat hingga yang terendah dalam satu dekade.

Sebelum pandemi, situasi di India diperkirakan akan membaik sebagai dampak dari prakarsa-prakarsa pemerintah untuk memperbaiki posisi likuiditas dan Program Infrastruktur Nasional. Namun, serangan pandemi Covid-19 saat ini menimbulkan gangguan yang luar biasa.

Pemerintah India memberlakukan penguncian yang ketat dalam upaya untuk menekan jumlah warganya yang terinfeksi Covid-19, yang menyebabkan sebagian besar ekonomi negara itu ditutup selama dua bulan. Menurut IHS Market, pertumbuhan PDB riil India untuk tahun fiskal 2020-21 (berakhir Maret 2021) akan menyusut 6,3%.

Meski pemerintah mencoba melepaskan pembatasan-pembatasan lockdown, area-area ekonomi utama di perkotaan sebagian besar masih dikunci secara ketat karena meningkatnya laju infeksi Covid-19.

Menurut Bank Dunia, rasio utang India terhadap PDB diperkirakan akan naik dari 70% pada TA 2020 menjadi lebih dari 80% karena pendapatan yang lebih rendah dan pengeluaran yang lebih tinggi. Hal ini dapat membatasi kemampuan pemerintah untuk berinvestasi dalam infrastruktur.

Di India, sebagian besar proyek infrastruktur dikelola dan dibiayai, oleh pemerintah daripada perusahaan swasta atau bahkan KPS (kemitraan publik-swasta) agar berbagi risiko dan manfaat. Dengan pendapatan masing-masing negara bagian – dan pemerintah pusat – yang tertekan karena lockdown, diperkirakan alokasi anggaran untuk proyek-proyek baru akan dipangkas.

Sebuah indikasi makin gentingnya situasi di negara tersebut terjadi ketika JCB India baru-baru ini memangkas 400 pekerjaan karena penjualan yang terus menurun akibat dampak Covid-19. Menurut laporan tersebut, JCB India memiliki total tenaga kerja sekitar 8.000 orang, termasuk 4.000 karyawan tetap. Baik pekerja kontrak maupun pekerja kontrak telah kehilangan pekerjaan mereka.

“Sektor peralatan konstruksi, seperti banyak sektor lainnya, terkena dampak buruk Covid-19. Karena aktivitas konstruksi melambat, hampir tidak ada permintaan untuk peralatan konstruksi pada bulan April.

“Kami melihat sekitar 80% penurunan permintaan produk pada Mei dan Juni dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” kata direktur pelaksana JCB India, Subir Kumar Chowdhury. JCB India memiliki lima pabrik di India dan memproduksi berbagai macam peralatan.

 Australia menyasar infrastruktur

Industri konstruksi Australia diperkirakan mengalami kontraksi 5,7% pada tahun 2020, karena tantangan ganda Covid-19 dan harga minyak yang sangat rendah. Namun, pemerintah Australia terus mendorong investasi infrastruktur dalam upaya untuk memberikan kesempatan bagi perekonomian negara itu.

Program Investasi Infrastruktur pemerintah federal Australia diperkirakan akan menyalurkan dana infrastruktur sebesar US$ 57,5 miliar hingga tahun 2026-27, termasuk pendanaan Program Kereta Api Nasional sebesar US$ 7,7 miliar dan investasi infrastruktur besar lainnya.

Selain itu, PM Scott Morrison telah mengumumkan tambahan dana sebesar AUD$ 1,5 miliar (US$ 1,05 miliar) untuk segera memulai pekerjaan pada proyek-proyek prioritas yang diidentifikasi oleh negara bagian dan teritori.

Daftar prioritas tersebut mencakup sekitar 150 proposal penting nasional di bidang transportasi, air, energi, telekomunikasi, dan infrastruktur sosial dan mengidentifikasi pipeline proyek senilai AUD $60 miliar (US$ 43 miliar) yang telah dinilai oleh Infrastructure Australia.

Meski demikian, kesehatan industri konstruksi Australia masih  dikhawatirkan. Joe Barr, CEO perusahaan konstruksi Australia John Holland, mengatakan kepada The Australian Financial Review bahwa industri konstruksi negara itu, yang menyumbang 13% dari PDB Australia dan satu dari sepuluh pekerjaan, berada di ambang kehancuran.

Di seluruh kawasan APAC, pembangunan infrastruktur sangat bergantung pada dana pemerintah. Namun dengan pendapatan yang lebih rendah karena perlambatan ekonomi, dan pengeluaran fiskal yang lebih tinggi untuk menopang segmen populasi yang lebih lemah, rasio utang negara terhadap PDB akan meningkat, yang berpotensi menghambat belanja infrastruktur utama.

Sebelum pandemi, pemerintah-pemerintah APAC umumnya telah banyak berinvestasi dalam infrastruktur. Dalam lima tahun terakhir, nilai konstruksi infrastruktur global tumbuh rata-rata 3,2% setiap tahun, dengan pembangunan infrastruktur di Asia Timur Laut tumbuh rata-rata 5,4% per tahun dan 6,8% di Asia Selatan dan Tenggara, menurut GlobalData.

Pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan untuk wilayah tersebut (tidak termasuk China) akan turun menjadi hanya 0,5% pada tahun 2020, turun dari rata-rata lebih dari 7% dalam lima tahun terakhir, kata laporan itu. Akibatnya, investasi akan menurun, terutama pada konstruksi komersial, industrial dan perumahan.

“Para pemerintah dan otoritas-otoritas publik kemungkinan akan meningkatkan pengeluaran untuk proyek-proyek infrastruktur segera setelah situasi kembali normal sehingga dapat menghidupkan kembali industri konstruksi dan ekonomi yang lebih luas,” kata Danny Richards, ekonom utama, GlobalData.

“Ini akan menyebar ke semua bidang infrastruktur transportasi, energi dan utilitas. Investasi dalam infrastruktur umumnya dianggap memiliki efek ganda yang tinggi, dengan keseluruhan peningkatan nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada nilai investasi langsung itu sendiri.”

Dengan dana-dana publik yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur, perusahaan-perusahaan meminta pemerintah-pemerintah di Asia Tenggara untuk mendorong partisipasi sektor swasta yang lebih besar dalam berbagai proyek.

Titik-titik terang di pasar konstruksi Asia Pasifik

Proyek konstruksi di Indonesia yang sedang dikerjakan di Indonesia (Foto: EI

Meskipun Covid-19 mendatangkan malapetaka di industri perhotelan global, analis di TopHotelNews melaporkan bahwa pipeline proyek hotel di seluruh APAC tetap penuh.

Basis data konstruksi TopHotelProjects mengungkapkan bahwa 2.476 hotel baru dijadwalkan untuk dibuka di wilayah APAC pada tahun-tahun mendatang. Asia Pasifik telah mendorong pertumbuhan di pasar hotel global selama beberapa waktu, dan hal itu tetap terjadi, dengan 671 properti yang direncanakan untuk tahun 2020 dan 667 yang dijadwalkan untuk tahun 2021.

China berada di depan dengan 1.206 pembukaan properti yang direncanakan, hampir setengah dari seluruh peluncuran pada masa mendatang di kawasan itu. Disusul Australia di tempat kedua yang sangat jauh dengan 183 hotel baru, sementara India yang berada di posisi ketiga sebanyak 148 properti baru.

Asia juga akan memimpin pembangunan global saluran pipa minyak dan gas bumi baru/transmisi pada tahun 2024, menguasai 36% dari total perkiraan penambahan.

Kawasan ini mengharapkan dibangunnya 109 proyek dengan panjang 46.699 km jaringan pipa minyak dan gas yang baru. Sekitar 78% dari proyek-proyek ini telah mendapat persetujuan untuk pengembangan, sedangkan 10.114 km sisanya dari proyek-proyek tahap awal yang diumumkan.

Menurut analis Soorya Tejomoortula, pipa terpanjang yang akan datang di wilayah tersebut dengan panjang 3.371 km adalah The Power of Siberia 1 (ruas China).

Ke depan, pertumbuhan global diproyeksikan di -4,9% pada 2020, 1,9% di bawah perkiraan April 2020, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Pandemi berdampak lebih negatif terhadap aktivitas pada paruh pertama tahun 2020 daripada yang diperkirakan, dan pemulihan diproyeksikan akan lebih bertahap dari perkiraan sebelumnya.

Terlepas dari prediksi tersebut, pada tahun 2021 pertumbuhan global diproyeksikan sebesar 5,4%. Secara keseluruhan, ini akan membuat PDB 2021 sekitar 6,5% lebih rendah daripada proyeksi sebelum Covid-19 pada Januari 2020. Dampak merugikan pada rumah tangga berpenghasilan rendah sangat akut.

China, tentu saja, menjadi kunci kesehatan ekonomi dunia dan kawasan Asia Pasifik. Laporan terbaru dari analis pasar Fitch Solutions melukiskan gambaran optimis untuk masa depan.

“Kami tetap positif tentang prospek sektor konstruksi China, yang merupakan yang terbesar di dunia dalam dari sisi nilai nominal,” kata laporan itu. “Pertumbuhan akan didorong oleh upaya pemerintah untuk berinvestasi dalam infrastruktur, baik di sektor transportasi maupun energi, untuk meningkatkan konektivitas antar kota dan untuk mengurangi polusi.”

Laporan tersebut menambahkan bahwa konstruksi akan menjadi penerima manfaat utama dari upaya pemerintah untuk merangsang permintaan ke dalam perekonomian.

Optimisme ini digaungkan oleh Sharma dari GlobalData. “Potensi utama di kawasan ini berarti bahwa mungkin ada pemulihan tajam pada 2021, diikuti oleh ekspansi yang kuat dalam beberapa tahun berikutnya,” katanya. “Ini akan didorong oleh kondisi ekonomi yang baik dan populasi kelas menengah yang meningkat, mendorong pertumbuhan konsumsi dan mengarah pada investasi dalam perumahan dan infrastruktur.” (Sumber: khl.com)

 

50 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Related posts