Cina dilaporkan akan menutup 4300 tambang batu bara selama tiga tahun ke depan. Hal itu sejalan dengan keputusan negeri tirai bambu itu untuk menghentikan semua persetujuan tambang batu bara baru. Rencana tersebut menyusul pernyataan sebelumnya untuk menutup 1000 tambang kecil dan illegal di empat provinsi.

The Shanghai Daily melaporkan keputusan pemerintah untuk menutup 4300 tambang batubara secara keseluruhan memangkas kapasitas produksi yang ada sekarang menjadi 700 juta ton, dan merelokasi sekitar satu juta pekerja. Pemerintah sudah menyediakan dana sekitar 30 miliar yuan (AS6.5 juta) untuk membantu dalam upaya-upaya relokai.
Selama lima tahun terakhir pemerintah Cina sudah mengurangi sekitar 560 juta ton produksi, dan menutup 7250 tambang batubara di seluruh penjuru negeri itu.
Kebijakan itu bisa dimaklumi mengingat Cina memiliki sekitar 11.000 tambang batu bara yang beroperasi per Desember tahun lalu, dan dari jumlah tersebut sekitar 9600 tambang yang legal.
Perekonomian Cina sedang melambat saat ini, meski beberapa perusahaan sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang dipicu oleh upaya-upaya restrukturisasi. Keberhasilan restrukturisasi aset membantu mendorong kenaikan profit beberapa perusahaan elektronik, sebagaimana dilaporkan China Securities Journal baru-baru ini. Tetapi produsen-produsen besi dan baja dilaporkan masih merugi.
Meski situasi ekonomi secara keseluruhan masih suram, industri-industri teknologi tinggi, pabrikan-pabrikan peralatan dan consumer goods berturut-turut memperoleh keuntungan 8,9 persen, 4 persen dan 7 persen.
Para pengambil kebijakan Cina sedang berjuang keras menggiring perekonomian negeri itu menjauh dari model ekonomi yang berbasis ekspor menuju perekonomian yang berlandaskan belanja konsumen, inovasi dan jasa. Kebijakan-kebijakan pro-konsumsi membantu mendorong segmen konsumsi berkontribusi 66,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2015, naik 15,4 poin persentase dari 2014.



















