
Di sela-sela wawancara dengan Majalah Equipment, Kamis (21/5) di Jakarta, berkali-kali Paul Iman Pandjaitan, CEO PT Pipa Mas Putih, meminta maaf karena harus menghentikan perbincangan ringan kami demi menyambut tamu-tamunya, para pemain industri minyak dan gas. Ajang pameran IPA Convex ini juga menjadi forum untuk bertemu teman-teman dan para relasinya yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari teman lama di Pergerakan Indonesia (PI) ketika masih di Jogjakarta dulu hingga para rekanan bisnisnya. Mereka datang menyambanginya, silih berganti.
“Teman itu penting sekali dalam kehidupan saya,” kilahnya. Apalagi sekarang, sebagai CEO, Iman mesti bertanggung jawab penuh memimpin kapal bisnisnya dan merangkul berbagai kalangan, serta rekanan bisnis.
Dia bilang, pertumbuhan bisnis perminyakan setahun belakangan kian melambat, sehigga ia harus bekerja keras untuk terus mengembangkan pasar dalam kondisi seperti ini. PT Pipa Mas Putih adalah satu-satunya penyedia pipa-pipa screen domestik yang berfungsi menyaring cairan, memilah, dan mengayak benda padat dari lingkungan sekitarnya. “Kalau dari luar negeri kompetitor kami banyak. Sekitar 20-an,” ujarnya.
Awalnya, Pipa Mas Putih masih dipimpin ayahnya, Dr. Sopar Pandjaitan, ketika menyuplai produknya ke perusahaan minyak Chevron sejak 1985. Kemudian perusahaan ini mulai memperluas pasar domestiknya, 1991-1992. Sementara penjajakan ekspor dimulai sejak 1994, ke Bangladesh. Juga pada tahun yang sama, perusahaannya mengirim pipe based screen ke Perusahaan Minyak Shell, di Brunei Darussalam.
Iman, kelahiran Jakarta 10 November 1978, adalah jebolan jurusan Mechanical Engineering, Boston University, AS pada 2001. SMA-nya ditempuh di Australia. Ia, putera bungsu dari lima bersaudara. Sebelum bergabung ke perusahaan keluarga, ia sempat bekerja di bisnis sekuritas dan pertambangan sampai 2010.
Dari pengalamannya bekerja sendiri, banyak pelajaran hidup berharga yang ia petik. Misalnya, bagaimana cara mendekati orang-orang bank? “Memang saya dulu pernah dikenalkan oleh orang tua, tetapi itu hanya sekedar kenal-kenal begitu…. Belum punya arti serius dalam berbisnis dan urusan perbankan. Berbeda sekali kalau kita langsung terjun menanganinya,” imbuhnya.
“Dari sekuritas, saya bisa memahami bagaimana cara menghimpun uang. Lalu dari bisnis tambang, saya belajar banyak bagaimana mendekati orang di daerah, menikmati pergaulan hidup yang luas. Kalau dari sekolah, tentunya saya banyak memperoleh pemahaman teknis tentang pekerjaan yang dilakukan di sini,” urainya.
Mengapa Iman yang dipilih meneruskan usaha orangtuanya? “Karena saudara-saudara saya yang lainnya kebanyakan mengambil jurusan-jurusan ekonomi, accounting, atau public relations. Sementara itu, hanya saya sendiri yang belajar sejak awal di perusahaan ini dan memiliki background teknik. Istilahnya, saya belajar dari posisi paling bawah sekali. Lalu naik secara berangsur-angsur ke posisi yang sekarang. Makanya saya yang dipilih,” tuturnya sembari mengumbar senyum.
Tampaknya, pergaulan dan interaksi dengan berbagai orang, diyakininya dapat membawa kesuksesan dan keberhasilannya selama ini, terutama dalam mengelola bisnis keluarga ini.
Pada 2010 Iman resmi menggantikan ayahnya memimpin PT Pipa Mas Putih. “Bayangkan, saya sekolah di luar (negeri) sampai lulus kuliah, namun akhirnya memiliki banyak teman di sini. Saya sendiri tak tahu bagaimana awal mulanya, namun inilah yang memperkuat kemampuan dan kapasitas saya ketika meneruskan bisnis keluarga yang ditinggalkan almarhum bapak saya,” ia melanjutkan ceritanya.
“Saya dulu sempat mau serius bekerja di Amerika, namun karena masih berstatus WNI, saya disuruh menunggu dulu selama dua tahun. Akhirnya, saya putuskan untuk pulang kembali ke tanah air. Tepat 14 hari setelah terjadi Peristiwa 911, nine eleven,” katanya.
Apa kiatnya dalam menjalankan roda perusahaan pada saat-saat transformasi dan melalui proses suksesi kepemimpinan bapaknya dahulu? “Tantangan lebih banyak datang dari luar, eksternal dan juga internal,” demikian pengakuannya.
“Kita harus bisa bergaul ke bawah, merangkul semua kalangan. Simple saja caranya. Saya mengajak setiap orang berbicara. Memancing mereka mengeluarkan aspirasinya. Jangan sampai orang merasa kurang diapresiasi! Itu cara saya mempengaruhi orang,” akunya lagi.
“Saya mencoba mendengarkan apa yang diinginkan orang-orang yang sudah sejak lama ikut terlibat mengembangkan bisnis ini. Saya mendekati orang-orang bawah, mencoba menanyakan apa mau mereka? Memang ada juga yang tidak terbuka. Namun, ada juga yang bersedia berterus terang. Pendekatan kepada orang-lah menjadi faktor penting dalam memimpin dan mengorganisasikan bisnis,” urainya bersemangat.
Menggarap pasar ekspor, diyakininya sebagai salah satu solusi untuk memperluas ekspansi pasar. “Bisnis kami ini nieche. Sangat segmented. Kami kebanyakan memproduksi barang sesuai pesanan, tailor made. Jadi, di sini yang mempengaruhi laku tidaknya barang adalah si pemesan itu sendiri. Sehingga kami tidak didikte oleh pasar,” katanya.
Dia lalu bercerita mengenai pengalaman kerjasamanya dengan anak perusahaan Schlumberger. Karena harus terus menyediakan berbagai produk premium, maka Pipa Mas Putih berusaha menjajaki dan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki divisi riset yang unggul dan mumpuni. “Contohnya kami sudah bekerja sama dengan anak perusahaan atau subsidiaries dari Schlumberger yang mempunyai basis R& D yang kuat. Namanya Absolute Completions Technologies (ACT),” ia menjelaskan dengan mata berbinar. Pipa Mas Putih bekerja sama dengan ACT (Kanada) dalam memproduksi premium screen (Meshrite) pada 2012.
Captive market dan free market, kedua segmen pasar ini Iman akui dilayani dan dikembangkan perusahaannya secara bersamaan. “Sejak 1985 kami ada captive market. Tetapi supaya tetap nomor satu di sini, kami juga harus mampu bersaing di lini-lini produk free market industri migas ini, seperti OCTG (Oil Country Tubular Goods),” kilahnya.
Screen yang menjadi produk unggulan Pipa Mas Putih, memiliki konten lokal yang cukup tinggi, yaitu 40 persen. Sehingga Pemerintah mewajibkan pembelian produk ini dari sumber-sumber dalam negeri. Pricing dan custom design tertentu disesuaikan dengan kehendak para pembeli atau pemberi order. Istilahnya, customised.
Hal ini juga yang membuat produk perusahaan ini selalu mendapat tempat di hati klien. “Semua sangat penting. Itulah pengaruh kualitas dan reputasi perusahaan kita, supaya tetap eksis di mata publik dan customer,” ia menekankan.
Dalam mendekati klien, paling banyak dilakukan dengan cara-cara tradisional, yakni pendekatan langsung kepada customer. Demikian pula dengan kalangan publik di sini. Sementara di pasar internasional, medianya adalah internet. “Dari tahun ke tahun, kami selalu mengintroduksi dan berkampanye menawarkan produk kami yang baru,” imbuh penyuka udara pantai ini.
Ada juga OCTG (oil country tubular good). “Ini kami sebut sebagai produk ‘sejuta umat’. Orang atau perusahaan yang rakus selalu berusaha mengontrol dan mau untung sendiri sebanyak-banyaknya. Supaya terhindar dari tekanan dan jebakan seperti ini, maka kami perlu membikin produk yang lain dan customized. Tidak terjebak selalu menjual produk model ‘sejuta umat’ yang mudah dijual oleh siapa saja,” katanya.
Iman mengakui sangat terinspirasi oleh etos hidup bapaknya, Dr. Sopar Pandjaitan. “Saya ingat pesan bapak. Beliau menginginkan, kalau bangsa kita jangan sampai hanya menjadi pekerja kasar saja. Kita harus bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia,” ujarnya seraya menghela napas panjang dan dengan bola mata berkaca-kaca.
Hal ini juga yang mendasari keputusannya untuk tidak merekrut orang-orang baru dan lebih memberikan kesempatan berkembang kepada orang-orang lama. “Hanya saja, saya juga mengerti akan tuntutan bisnis.
Keputusan rekrutmen ini baru ditinjau kembali, apabila terbukti kemampuan berkembang mereka memang sudah mentok. Saya ingin, anak buah ikut maju bersama perusahaan ini. Sudah tiga tahun lamanya, hal ini saya lakukan,” ujar pria yang gemar bermain game komputer ini tanpa tedeng aling-aling, setengah tertawa.
Iman pernah bergabung dengan para aktivitas politik di Pergerakan Indonesia (PI). Namun, ia mengakui tidak punya darah politik. “Saya tidak tertarik untuk menjadi politisi. Dulu sih memang iya, tetapi sekarang saya tidak mau lagi. Lebih baik mengurusi hal yang jelas-jelas dan pasti saja. Saya tidak mau keluar uang banyak tak keruan untuk urusan ini. Kedua, saya merasa tidak memiliki hati seorang politisi,” tandasnya. Barangkali sikapnya ini sejalan dengan semboyan hidupnya, “Apa yang saya pikirkan, saya katakan! Apa yang saya katakan, saya lakukan!”



















