Alat Berat
Business Top News

Penjualan di Semester I 2022 Laris Manis, Laba Emiten Alat Berat Melejit

Januari 2022 hingga Juni 2022 (Semester I 2022) merupakan periode yang penuh berkah bagi emiten alat berat. Empat emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) menikmati pertumbuhan kinerja, baik pendapatan maupun laba bersih yang signifikan. Pertumbuhan kinerja emiten selama semester I 2022 mayoritas didukung oleh penjualan alat berat, terutama ke sektor pertambangan dan konstruksi.

Mari kita tengok kinerja keu.angan PT United Tractors Tbk (UNTR). Sepanjang semester I 2022, kinerja entitas grup PT Astra International Tbk (ASII) ini solid. UNTR berhasil membukukan laba bersih Rp 10,4 triliun per Juni 2022. Jumlah ini melesat 129% dari laba bersih periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,5 triliun.

Laporan keuangan di laman BEI, dikutip Rabu (10/8), tercatat kenaikan laba bersih UNTR  sejalan dengan kenaikan pendapatan. Sampai dengan semester I 2022, pendapatan bersih konsolidasian UNTR mencapai Rp 60,4 triliun atau meningkat sebesar 62% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021.

Masing-masing unit usaha, yaitu mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batubara, pertambangan emas, dan industri konstruksi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 29%, 33%, 31%, 6% dan 1% terhadap total pendapatan bersih konsolidasian UNTR.

Pendapatan unit usaha mesin konstruksi sampai dengan semester I 2022 mencapai Rp 17,4 triliun, meningkat 86% dibandingkan semester I 2021 sebesar Rp 9,4 triliun.

Penjualan alat berat Komatsu yang diageni UNTR tumbuh signifikan hingga Juni 2022. Sepanjang enam bulan pertama 2022, UNTR mencatatkan penjualan alat berat sebanyak 2.873 unit. Angka ini melesat 111,09% dari realisasi penjualan pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 1.361 unit.

Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis, mengatakan, kenaikan penjualan didorong oleh permintaan dari sektor pertambangan dan konstruksi.

Sebelumnya, kepada Equipment Indonesia, Sara mengemukakan, pihaknya menaikkan proyeksi angka penjualan Komatsu menjadi 4.800 unit dari sebelumnya 3.700 unit. Adapun revisi naik target ini berdasarkan hasil diskusi dengan prinsipal dan juga hasil analisis pasar. Proyeksi penjualan disesuaikan sambil tetap memantau pergerakan pasar sampai akhir tahun.

Sara mengatakan, kemampuan produsen/prinsipal untuk memproduksi alat tentu tidak dapat diakselerasi cepat, melainkan secara bertahap.  “Itulah sebabnya proyeksi kami perlu menyesuaikan juga dengan kemampuan prinsipal,” katanya.

 Tren penjualan pada semester II masih sejalan dengan target tahun 2022. Fokus UNTR pada paruh II tahun ini adalah memastikan alat berat bisa dikirimkan kepada customer sesuai jadwal.

Sara mengemukakan, per Juni 2022, unit usaha kontraktor penambangan yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 20 triliun atau naik sebesar 29% secara year-on-year (yoy).

Pendapatan unit usaha pertambangan batubara yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA) meningkat sebesar 149% menjadi Rp 18,7 triliun. Adapun total penjualan batubara sampai semester pertama  2022 mencapai 5,8 juta ton, atau turun sebesar 8% dari periode yang sama tahun 2021 sebanyak 6,3 juta ton.

Penurunan ini karena adanya larangan ekspor sementara pada bulan Januari 2022. Namun demikian, meningkatnya rata-rata harga jual batubara menutupi penurunan volume penjualan.

Di segmen tambang emas, pendapatan bersih unit usaha yang dijalankan oleh PT Agincourt Resources turun sebesar 10% menjadi Rp 3,9 triliun. Sampai dengan Juni 2022, total volume penjualan emas dari tambang Martabe sebesar 144.000 ons atau turun sebesar 18% dari periode yang sama tahun 2021 sebesar 176.000 ons.

Terkait kinerja UNTR, analis BRI Danareksa Sekuritas, Ignatius Teguh Prayoga  mempertahankan target perkiraan penjualan Komatsu di angka 4.800 unit tahun ini. Prayoga menilai kinerja operasional UNTR sepanjang semester I 2022 masih sejalan dengan perkiraan BRI Danareksa Sekuritas. Pendapatan dan laba bersih UNTR pada 2022 diperkirakan masing-masing mencapai Rp 101,12 triliun dan Rp 13,73 triliun.

Dia menilai, saham UNTR masih menarik. Ini didukung antara lain oleh rencana pembelian kembali (buyback) saham (13 Juli 2022 – 12 Oktober 2022) senilai Rp 5 triliun. Dengan demikian, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi “buy” (beli) saham UNTR dengan target harga Rp 34.000 per saham.

PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) juga kecipratan berkah akibat peningkatan penjualan alat berat. Emiten penyedia alat berat terintegrasi ini membukukan pertumbuhan positif pada semester I 2022.

Laba bersih komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh signifikan sebesar 61,5% menjadi US$ 4,5 juta per Juni 2022, dibandingkan periode yang sama tahun 2021 sebesar US$ 2,79 juta.

Direktur Utama KOBX, Andry B. Limawan, mengatakan, solidnya kinerja bottom line tidak lepas dari solidnya penjualan unit alat berat. Harga batubara dan tingkat permintaan pada level saat ini mendorong pemilik tambang untuk meningkatkan produksinya sehingga berimbas secara positif terhadap permintaan unit alat berat,” katanya, dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (10/8).

Pada semester I 2022, KOBX membukukan pendapatan sebesar US$ 81,09 juta. Angka tersebut setara pertumbuhan 43,77% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2021 sebesar US$ 56,40 juta. 

Pendapatan secara konsolidasi tersebut bersumber dari keempat segmen usaha KOBX, yaitu penjualan unit alat berat, penjualan suku cadang, jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan, dan jasa sewa (sewa alat berat dan sewa bangunan). Keempat segmen tersebut membukukan pertumbuhan solid double digit pada semester I 2022. 

Segmen penjualan unit alat berat merupakan kontributor tertinggi terhadap pendapatan konsolidasi KOBX. Pada semester I 2022 membukukan kontribusi sebesar 78,79% terhadap total pendapatan. Sepanjang enam bulan pertama 2022, penjualan unit alat berat mencapai US$ 63,88 juta, setara pertumbuhan 47,41% year-on-year

Segmen penjualan suku cadang merupakan kontributor terbesar kedua setelah segmen penjualan unit alat berat. Segmen ini membukukan pendapatan sebesar US$ 9,47 juta, tumbuh 30,35% year-on-year. Dengan pencapaian tersebut, segmen ini berkontribusi 11,68% terhadap pendapatan konsolidasi KOBX sepanjang enam bulan pertama 2022. 

Kontributor terbesar ketiga terhadap pendapatan konsolidasi adalah segmen jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan. Segmen tersebut berkontribusi sebesar 5,65% terhadap pendapatan konsolidasi dengan membukukan pendapatan sebesar US$ 4,58 juta, tumbuh 47,57% jika dibandingkan pencapaian tahun lalu US$ 3,10 juta. Pertumbuhan ini tidak lepas dari kontribusi jasa kontraktor pertambangan yang baru saja didirikan tahun 2021.

Terakhir, segmen sewa yang terdiri dari sewa alat berat dan sewa bangunan. Segmen ini membukukan pendapatan US$ 3,15 juta, setara kontribusi 3,89% terhadap pendapatan konsolidasi pada semester I 2022. Segmen sewa pada enam bulan pertama 2022 tumbuh 17,09%.

Andry menambahkan, manajemen optimis kinerja positif ini akan berlanjut hingga akhir tahun 2022. KOBX akan terus memonitor kinerja dan permintaan alat berat hingga triwulan III 2022 sebelum memutuskan untuk merevisi naik target pendapatan. Hal tersebut dikarenakan volatilitas harga komoditas dan terbatasnya pasokan serta logistik alat berat yang terjadi secara global.

Pertumbuhan industri alat berat juga tidak dapat dipisahkan dari peran bank dan lembaga keuangan lainnya. “Dukungan mereka dalam penyaluran kredit alat berat menjadi salah satu faktor terjadinya percepatan pertumbuhan alat berat, khususnya di Indonesia,” katanya. 

Solidnya angka pendapatan yang berujung pada kinerja positif laba, membuat kondisi aset dan ekuitas KOBX bertambah solid. 

Posisi kas dan setara kas KOBX tumbuh 369%, dari US$ 4,68 juta pada semester I 2021 menjadi US$ 21,96 juta pada semester I 2022. Begitu pula nilai persediaan naik 59% menjadi US$ 54,71 juta. Kondisi tersebut membuat jumlah aset lancar tumbuh 64,60% menjadi US$ 117,39 juta dibandingkan US$ 71,32 pada tahun lalu. 

Jumlah aset tidak lancar pun mengalami kenaikan. Sepanjang enam bulan pertama 2022 tercatat sebesar US$ 47,56 juta, tumbuh 5,17%. Dengan demikian, total aset KOBX hingga akhir Juni 2022 tercatat US$ 164,94 juta, tumbuh 41,54% year on year. Adapun tahun lalu membukukan nilai US$ 116,53 juta.

Liabilitas jangka pendek KOBX per Juni 2022 tercatat US$117,93 juta. Angka tersebut mengalami kenaikan 59,63% dibandingkan tahun lalu US$ 73,87 juta. Sedangkan liabilitas jangka panjang tercatat turun minus 2,11% menjadi US$ 7,07 dibandingkan tahun lalu US$ 7,22 juta. Sehingga pada akhir Juni 2022, nilai total liabilitas KOBX tercatat tumbuh 54,13% menjadi US$ 124,99 juta dibandingkan tahun lalu US$ 81,09 juta.

Demikian pula PT Intraco Penta Tbk (INTA). Peningkatan pendapatan mendorong INTA berhasil memangkas rugi bersih sebesar 56,61% yoy pada semester I 2022. Perseroan optimis dapat meraup pendapatan Rp 775-780 miliar pada 2022.

Per Juni 2022, INTA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 334,35 miliar. Jumlah ini meningkat 18,30% dibandingkan pendapatan usaha INTA di semester I 2021 sebesar Rp 282,62 miliar.

Mayoritas pendapatan usaha INTA di paruh pertama 2022 disumbangkan oleh penjualan alat-alat berat sebesar Rp 168,14 miliar, kemudian diikuti oleh penjualan suku cadang sebesar Rp 102,59 miliar. Selain itu, INTA juga mencetak pendapatan jasa persewaan sebesar Rp 45,85 miliar.

 INTA memiliki beban pokok pendapatan sebesar Rp 273,84 miliar di semester I 2022, atau naik 14,64% dibandingkan beban pokok pendapatan perusahaan di semester I 2021 sebesar Rp 238,86 miliar. Meski begitu, laba kotor INTA di semester I 2022 tercatat sebesar Rp 60,51 miliar, tumbuh 38,27% dibandingkan posisi laba kotor di semester I 2021 sebesar Rp 43,76 miliar.

INTA juga meraih kenaikan keuntungan selisih kurs mata uang asing sebesar 75%, dari Rp 3 miliar di semester I 2021 menjadi Rp 5,25 miliar di semester I 2022.

Hingga akhir semester I 2022, INTA masih menderita rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 40,15 miliar. Namun, angka ini menyusut 56,61% dibandingkan rugi bersih di semester I 2021 yang mencapai Rp 92,54 miliar.

Per 30 Juni 2022, total aset INTA mencapai Rp 2,40 triliun, atau turun tipis 1,63% dibandingkan total aset perusahaan per 31 Desember 2021 sebesar Rp 2,44 triliun. INTA memiliki total liabilitas sebesar Rp 4,17 triliun di semester I 2022, yang mana angka ini kemudian dikurangi oleh defisiensi modal perusahaan di periode yang sama sebesar Rp 1,77 triliun.

Setali tiga uang, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) mencatat penghasilan bersih US$ 114,11 juta hingga periode 30 Juni 2022, naik 53,52%, dari US$ 73,85 juta di periode yang sama tahun 2021.

Dalam laporan keuangan HEXA dikutip Senin (8/8), terungkap, laba bruto mencapai US$ 24,84 juta, naik 26,73%, dari US$ 19,60 juta per Juni 2021. Sedangkan laba usaha mencapai US$ 11,83 juta, meningkat 21,21% dibandingkan US$ 9,76 juta.

Laba tahun berjalan HEXA mencapai US$ 9,05 juta per Juni 2022, naik 17,68%. dari US$ 7,69 juta per Juni 2021. Adapun total aset HEXA naik 1,40% menjadi US$ 308,92 juta per 30 Juni 2022. #

Berita Terkait