27 C
Jakarta
21 Sep, 2021.

Total Rebuild atau Beli Baru?

Ada dua pilihan yang dihadapi para pemilik peralatan berat saat mesin-mesin mereka sudah berada  pada akhir siklus hidupnya yang pertama, bahkan mungkin yang kedua: apakah mengganti dengan peralatan baru ataukah membangun ulang sepenuhnya (total rebuild). Anda memilih opsi yang mana? 

Alat-alat berat yang menunggu giliran direkondisi di salah satu lokasi tambang batubara (Foto: EI)

Peralatan berat tidak ditakdirkan untuk berumur panjang. Masa pakainya sangat terbatas. Makin berat kerjanya, kemungkinan untuk lekas rusak makin tinggi. Itu sebabnya mesin-mesin yang bekerja di pertambanga, quarry dan juga forestry lebih cepat menjadi barang apkiran alias sudah tidak dapat dipakai lagi. Apalagi kalau pemeliharaannya tidak teratur.

Namun, karena peralatan berat merupakan barang modal, maka mesin-mesin ini pasti mendapat perlakuan istimewa dari pemiliknya. Perawatan terjadwal dilakukan secara rutin agar performa dan produktivitasnya tetap tinggi, biaya operasi dan kepemilikannya tetap efisien serta masa pakainya lebih panjang.

Tetapi, sebagus apapun perawatan suatu mesin, waktu tetap membatasinya. Selain suku cadang yang mengalami keausan sehingga harus diperbaiki dan diganti, komponen-komponen mesin yang lain juga perlu direkondisi. Seiring perjalanan waktu, produktivitas mesin semakin berkurang dan tingkat efisiensinya pun menurun. Ketika peralatan berat berada pada akhir siklus hidupnya, entah yang pertama atau bahkan mungkin yang  kedua, para pemilik alat  akan dihadapkan pada pilihan apakah mengganti dengan mesin-mesin baru atau bekas, memperbaiki saja ataukah membangun kembali (rebuild) mesin-mesin yang sudah ada. Mana pilihan yang menjadi preferensi Anda?

Opsi memperbaiki bukan solusi yang asing lagi. Hampir semua produsen, dealer/distributor dan para pemilik alat punya workshop untuk memperbaiki mesin-mesin mereka sendiri maupun milik para customer. Dari segi biaya, perbaikan tergolong opsi yang paling murah. Mesin diperbaiki setiap kali terjadi masalah alias rusak. Namun, peralatan yang sering keluar masuk bengkel akan menimbulkan downtime yang pada akhirnya berdampak terhadap produktivitas secara keseluruhan, sementara biaya perawatan dan operasi akan semakin mahal. 

Mengganti mesin-mesin lama dengan peralatan brand new kerap menjadi opsi pertama yang dipertimbangkan banyak pemilik alat. Peralatan baru biasanya memiliki biaya perawatan yang lebih rendah dan teknologi yang lebih modern. Unit-unit baru yang sudah dilengkapi dengan perangkat-perangkat antarmuka dan hidrolik yang diperbarui juga dapat membantu Anda menyelesaikan proyek-proyek lebih cepat. Peralatan baru juga bertahan lebih lama dan memiliki biaya perawatan yang lebih rendah. Tetapi, dari segi nilai investasi, membeli peralatan baru biasanya lebih mahal daripada membangun kembali atau memperbaiki mesin-mesin yang sudah ada. Apakah membeli peralatan baru adalah keputusan terbaik untuk bisnis Anda tergantung pada seberapa banyak Anda dapat memperoleh keuntungan finansial dengan melakukannya.

Bangun kembali

PT Liebherr Indonesia Perkasa melakukan servis langsung di jobsite (Dok. PTL)

Penawaran yang relatif baru di Indonesia adalah membangun kembali (rebuild) peralatan berat yang usia produktifnya sudah berakhir. Beberapa OEM terkemuka menyediakan jasa rebuild dan remanufaktur melalui para dealer/distributor resmi mereka. Dengan rebuild, maka sebuah mesin akan kembali ke kondisi awal dan memulai kehidupan baru (second life) berikutnya sehingga memperpanjang masa pakainya dan sekaligus meningkatkan nilai sisanya.

Opsi rebuild bisa memberi Anda masa pakai seperti mesin baru dengan harga yang lebih rendah. Namun, proses rebuild memakan waktu yang lama. Juga tidak semua teknologi pada mesin rebuild dapat diperbarui.

Rebuild paling umum ditawarkan untuk mesin-mesin besar di sektor-sektor konstruksi, quarry dan pertambangan. Bergantung pada kondisi mesin, para pelanggan dapat memilih tingkat rebuild yang berbeda. Caterpillar, misalnya, menawarkan dua opsi yakni Complete Certified Rebuild dan Certified Power Train Rebuild.

“Saat alat berat berada di akhir siklus hidup pertamanya, mesin itu dapat memiliki siklus hidup kedua secara penuh dengan mengikuti program Complete Certified Rebuild. Mesin ini benar-benar dilucuti dan semua komponen non-logam diganti. Performa dan produktivitasnya dipulihkan ke mesin orisinil sembari melakukan pembaruan-pembaruan engineering terbaru,” kata sumber Caterpillar mengutip laporan Stian Overdahl di situs Plant & Equipment, Selasa (6/7).

Rebuild lain yang ditawarkan Caterpillar, menurut sumber tersebut, hanya terbatas pada Power Train saja, yaitu Certified Power Train Rebuild. Semua komponen dalam power train dibangun kembali sepenuhnya sesuai standar Caterpillar.

Apakah alat berat perlu rebuild penuh atau perbaikan saja sepenuhnya bergantung pada beberapa faktor, seperti hasil inspeksi, pengambilan sampel oli terjadwal, kinerja mesin, catatan operator, jam kerja alat dan penilaian kondisi sasis.  Selain itu, faktor-faktor lain yang juga dipertimbangkan adalah warna asap, power rendah, getaran, dan lainnya.

Menurut sumber Volvo Construction Equipment, seperti dikutip Stian Overdahl, ada argumen ekonomi yang mendukung perlunya rebuild mesin dalam armada yang ada dibandingkan membeli alat berat baru. “Dengan rebuild, Anda melindungi investasi awal Anda dan memperpanjang umur aset dengan harga yang jauh lebih rendah daripada membeli mesin baru. Sebagai imbalannya, Anda menerima mesin yang beroperasi penuh dengan produktivitas tinggi dan waktu kerja yang terjamin, tanpa berdampak pada pengeluaran modal,” menurut Volvo CE.  

Studi juga menunjukkan bahwa total biaya kepemilikan berkurang saat membangun kembali mesin dibandingkan dengan membeli mesin baru, karena biaya depresiasi dan asuransi lebih rendah, misalnya.

Di tanah air, beberapa OEM, bermitra dengan dealer lokal, menawarkan jasa rebuild dengan beberapa opsi. PT Volvo Indonesia, contohnya, menawarkan kepada pelanggan-pelanggannya program rebuild alat berat bekas bersertifikat yang dinamakan VCRM (Volvo Certified Rebuild Machine). Sebagaimana dijelaskan Nino Putra, Aftermarket & Customer Solution Director PT Volvo Indonesia, program ini memungkinkan usia (life cycle) mesin-mesin Volvo akan diperpanjang ke siklus usia pemakaian peralatan berikutnya dengan mengembalikan kondisi mesin-mesin itu ke usia awal.

Nino menyebut program rebuild bersertifikat ini sebagai pendekatan baru Volvo CE untuk membantu para customer mengoptimalkan siklus hidup mesin-mesin Volvo mereka. Mengikuti program ini, kata dia, membuat mesin-mesin mereka kembali ke kondisi kerja yang optimal dengan biaya yang lebih murah ketimbang membeli alat berat baru. Dengan tetap mengedepankan efisiensi operasional sebagai prioritas utama, program ini membantu para pelanggan mendapatkan cara yang inovatif untuk mengendalikan biaya.

Ia menggarisbawahi bahwa program VCRM sangat berbeda dengan program GOH (General Overhaul) yang biasa dilakukan oleh merek-merek lain. “Mesin-mesin yang mengikuti program VCRM akan mendapatkan garansi pabrikan dari Volvo CE,” ujarnya. 

Program VCRM di Indonesia dilakukan oleh dealer Volvo CE, PT Indotruck Utama (ITU). Namun, Nino mengingatkan bahwa tidak semua dealer Volvo bisa menyelenggarakan program rebuild. Hanya dealer-dealer yang sudah disertifikasi oleh Volvo CE yang boleh melakukan rebuild. Proses seleksinya ketat karena harus memenuhi standar-standar Volvo, baik dari segi infrastruktur, proses, kualitas maupun sumber daya yang harus dimiliki, dan setiap dua tahun akan dilakukan sertifikasi. Indonesia beruntung karena bengkel ITU merupakan yang pertama di Asia Pacific (APAC) yang telah disertifikasi oleh Volvo CE.

PT Liebherr Indonesia Perkasa sejak awal berdirinya pada tahun 1997 sudah merintis bisnis reman untuk mendukung bisnis distribusi dan servis peralatan tambang merek Liebherr. Program remanufaktur Liebherr Indonesia memungkinkan layanan rekondisi kotak splitter dan penyegelan kembali silinder. Pekerjaan-pekerjaan ini didukung oleh teknisi-teknisi lokal yang terlatih dan berpengalaman. Strategi ini dilakukan untuk memudahkan tim lokal yang melakukan perbaikan (rekondisi) alat-alat milik para customer. Mereka akan secara rutin memeriksa semua komponen dan mengganti komponen-komponen yang perlu diganti. Semua perbaikan dilakukan dengan standar pabrik Liebherr dan digaransi sebagai unit-unit baru.

Mengapa Liebherr Indonesia memproduksi berbagai komponen dan spareparts secara lokal supaya memudahkan pekerjaan tim servis. Sebab, kalau semuanya diimpor, proses servis akan terhambat karena butuh waktu lama untuk mengorder suku cadang maupun komponen dan harganya lebih mahal pula. Namun,  dengan memproduksi sendiri di dalam negeri, Liebherr Indonesia mampu menyediakan berbagai komponen dan suku cadang dengan kualitas yang sama dengan standar Eropa tetapi dengan harga yang kompetitif. Ini salah satu solusi inovatif yang ditawarkan Liebherr bagi pelanggan-pelanggannya di Indonesia.

Memutuskan antara membeli mesin baru maupun bekas, memperbaiki peralatan yang sudah ada hingga membangun ulang sepenuhnya (total rebuild) mesin-mesin yang usia produktifnya habis tidak selalu keputusan yang simpel. Masing-masing pilihan punya untung ruginya. Opsi mana yang menjadi preferensi Anda?

Related posts