27 C
Jakarta
21 Sep, 2021.

Kisah Sukses L&G Insurance Broker Selesaikan Klaim Asuransi Alat Berat

Perusahaan broker asuransi L&G Insurance berhasil menyelesaikan pembayarann klaim asuransi alat tambang senilai Rp 6,6 miliar.

ADT merek Bell B60E mengalami kecelakaan kerja pada 16 Mei 2019 pada lokasi tambang batubara di Luwe Hulu, Lahai Barat, Barito Utara, Kalimantan Tengah. (Foto: LGIB)

Jangan anggap enteng fungsi jasa perusahaan broker asuransi. Jika Anda sudah memiliki asuransi alat berat untuk melindungi aset-aset Anda, hal itu belum menjadi jaminan pembayaran klaim Anda akan berjalan lancar. Di sini perusahaan broker memainkan perannya, yaitu membantu klien menyelesaikan pembayaran klaim atas kecelakaan yang terjadi.

Taufik Arifin, Senior Associate L&G Insurance Broker menggarisbawahi bahwa klaim merupakan bagian paling kritis dari sebuah transaksi asuransi karena ada kemungkinan klaim itu ditolak asuransi. Kesuksesan penyelesaian klaim tidak mudah karena hal itu merupakan hasil  kombinasi profesionalisme dalam memahami terms and conditions polis asuransi, pemilihan perusahaan asuransi yang tepat, pengetahuan tentang aspek-aspek teknis, negotiation skill, hubungan dan komunikasi yang baik dengan loss adjuster dan perusahaan asuransi,” ungkapnya. 

Dia mencontohkan pengalaman sukses L&G Insurance Broker yang baru saja menyelesaikan klaim asuransi alat berat dengan nilai klaim sebesar Rp 6,6 Miliar – nilai klaim yang cukup besar untuk kecelakaan sebuah alat berat.

Berawal dari kecelakaan yang menimpa satu unit Articulated Dump Truck (ADT) merek Bell tipe B60E pada 16 Mei 2019 di lokasi tambang batubara di Luwe Hulu, Lahai Barat, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Peristiwa itu terjadi di kawasan tambang milik PT Victor Dua Tiga Mega. ADT Bell seharga Rp 9,5 Miliar itu mengalami kecelakaan tunggal akibat kondisi jalan yang licin. ADT itu tergelincir dan bagian kepala terbalik.

Menurut laporan, kondisi jalan saat kejadian agak licin karena beberapa jam sebelumnya turun hujan. Akibat insiden itu, operator truk terjepit dan kemudian berhasil diselamatkan. ADT ini masih dalam kondisi baru, dan baru beberapa bulan dioperasikan. Sebagian besar truk itu mengalami kerusakan.

Karena perusahaan tambang ini sudah mempunyai manajemen Health Safety and Environment (HSE) yang baik sesuai dengan standar industri tambang batubara, kecelakaan tersebut dapat segera ditangani dengan baik. Korban dapat dikeluarkan dari truk, segera dibawa ke klinik milik perusahaan tambang yang tak jauh dari lokasi kecelakaan. Kemudian untuk perawatan lebih lanjut korban dibawa ke rumah sakit terdekat dan selanjutnya dipindahkan ke rumah sakit yang terbaik di wilayah itu. Kemudian diketahui nyawa operator selamat dan kondisinya kini sudah membaik.

L&G Insurance Broker sebagai broker mendapat pemberitahuan dari klien atas kecelakaan ini pada hari yang sama. Setelah melakukan pengecekan atas polis, status pembayaran premi dan lain-lain yang ternyata sudah beres, L&G langsung memberitahu laporan kecelakaan kepada perusahaan asuransi yang menjamin, yaitu PT Tugu Pratama Indonesia Tbk. (TPI). Segera setelah itu, TPI mengkonfirmasikan bahwa mereka sudah menerima dan mencatat laporan klaim dan meminta informasi lebih lanjut atas kecelakaan ini.

Selanjutnya, L&G sebagai perusahaan broker asuransi mulai menjalankan tugasnya sebagai Advocate dan pengacara dalam penyelesaian klaim. L&G segera mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengan tertanggung baik yang berada di Jakarta maupun yang berada di lokasi tambang untuk segera mengumpulkan informasi-informasi yang diperlukan untuk penyelesaian klaim.

Selain dengan tertanggung yang mengoperasikan ADT, L&G juga berkomunikasi dengan perusahaan leasing yang membiayai unit ini. Bagi perusahaan leasing kejadian ini tentu saja merupakan risiko besar dalam pembiayaan karena selanjutnya mereka tidak bisa lagi mengharapkan pembayaran cicilan yang masih banyak tersisa. 

Karena nilai klaimnya relatif besar TPI menunjuk McLarens sebagai loss adjuster. Selanjutnya L&G berkomunikasi dengan McLarens. Bagi L&G kerjasama ini merupakan kerjasama yang sudah terjalin kesekian kalinya sehingga komunikasi sudah terjalin dengan baik.

Jika dilihat secara kasat mata, kerusakan akibat kecelakaan ini kelihatannya dapat diperbaiki (repairable). Yang mengalami kerusakan parah adalah bagian kepala. Namun, untuk membuktikan kerusakan riil, atas permintaan dari Mclarens, perlu dilakukan pembongkaran atas bagian-bagian yang rusak.

Kemudian, atas persetujuan dari loss adjuster disepakati untuk menggunakan jasa PT Hexindo Adiperkasa Tbk untuk melakukan survei dan membuat estimasi kerusakan yang terjadi. Seperti diketahui bahwa Hexindo adalah distributor resmi ADT Bell di Indonesia. 

Hasil survei dari Hexindo menunjukkan bahwa biaya perbaikan unit melebihi harga baru. Hal ini tentu saja menjadi perhatian khusus dari loss adjuster karena berarti kondisinya bisa menjadi total loss atau tepatnya constructive total loss

Untuk membuktikan bahwa estimasi kerusakan yang diajukan oleh Hexindo sudah menggambarkan kondisi yang sesungguhnya, maka loss adjuster meminta agar dilakukan pembongkaran total atas unit sehingga dapat dipastikan bahwa komponen mana saja yang rusak total dan yang bisa diperbaiki.

Sebagai informasi, salah satu tantangan dalam menentukan nilai klaim asuransi alat berat adalah “repair” atau “replace”. Repair adalah melakukan perbaikan dan biayanya lebih rendah. Sementara replace mengganti dengan komponen baru yang nilainya pasti lebih tinggi. Dalam hal ini diperlukan kemampuan teknis dan dukungan dari para ahli untuk memutuskan.

Karena keterbatasan alat di lokasi tambang untuk mengangkat dan membongkar unit, maka disepakati unit akan dipindahkan ke workshop Hexindo terdekat di Banjarmasin. Untuk memindahkan ADT itu butuh waktu yang tepat karena menunggu kondisi air sungai yang layak untuk dilalui.

Saat menunggu waktu yang tepat untuk memindahkan ADT itu ke workshop Hexindo, tiba-tiba terjadi badai pandemi COVID-19. Akibatnya proses pemindahan tertunda sampai beberapa waktu. Namun, pada akhirnya unit itu sampai juga di workshop Hexindo di Banjarmasin. Setelah dilakukan pembongkaran ternyata estimasi kerusakan yang telah dibuat oleh Hexindo sebelumnya tidak jauh berbeda. Biaya perbaikan jauh lebih besar dari uang pertanggungan.

Berdasarkan itu L&G sebagai broker asuransi langsung berkoordinasi dengan McLarens untuk bisa menerima rekomendasi dari Hexindo dan segera menyetujui klaim ini diselesaikan dengan bentuk total loss.

Alhasil, pada 8 Juni 2021, pembayaran klaim sudah terealisasi. Pembayaran klaim ditujukan ke rekening PT Hexa Finance Indonesia sesuai dengan Leasing Clause sebagai perusahaan leasing yang membiayai unit ini.

Mengapa jasa broker asuransi penting? 

Taufik Arifin, Senior Associate L&G Insurance Broker (paling kanan), saat pembayaran klaim asuransi oleh PT Tugu Pratama Indonesia Tbk kepada PT Hexa Finance Indonesia. (Foto: Dok. pribadi)

Berangkat dari pengalaman tersebut, Taufik menyebutkan beberapa hal penting yang patut dijadikan pelajaran berharga dalam penyelesaian klaim asuransi alat berat. Pertama, kesadaran dari Tertanggung untuk berasuransi. Operator dan perusahaan Leasing sama-sama menyadari bahwa jaminan alat berat itu penting. “Sebagai broker kami sering menemukan klien-klien di bidang alat berat yang tidak mengutamakan jaminan asuransi dengan berbagai alasan,” Taufik mengingatkan. 

Kedua, pemilihan perusahaan asuransi yang tepat. “Tidak banyak perusahaan asuransi yang tertarik untuk menjamin alat berat karena risikonya tinggi. Hanya beberapa perusahaan asuransi saja yang bersedia menjamin, biasanya dengan pertimbangan bisnis, jumlah transaksi yang besar, hubungan yang baik serta potensi bisnis di masa depan,” kata Taufik. Dalam kasus ini, penggunaan PT Tugu Pratama Indonesia Tbk sudah tepat. TPI adalah salah satu perusahaan asuransi terbesar di Indonesia, perusahaan publik (terbuka), sangat profesional dan kuat dari segi keuangan. 

Ketiga, pilihlah Loss Adjuster yang tepat. Menurut Taufik, salah satu faktor penting dalam penyelesaian klaim adalah penggunaan jasa perusahaan loss adjuster yang menguasai resiko yang terjadi. “Khusus untuk asuransi alat berat tidak banyak loss adjuster yang dapat diandalkan, dan salah satunya McLarens. Perusahaan multinasional ini sudah lama beroperasi di Indonesia dan sudah menyelesaikan banyak klaim-klaim besar,” ungkapnya. Dia menambahkan bahwa pemilihan loss adjuster adalah hak dari perusahaan asuransi, tetapi bisa direkomendasikan oleh broker asuransi dalam bentuk Nominated Loss Adjuster Clause.

Keempat, penggunaan Jasa Broker Asuransi. Untuk mengurus klaim asuransi yang kompleks dan besar seperti ini, jasa broker asuransi sebagai Advocate tertanggung sangat dibutuhkan. “Untuk memahami isi polis dengan baik itu tidak mudah, tapi bagi broker asuransi hal itu merupakan pengetahuan “umum” yang setiap hari mereka bahas. Untuk menyelaraskan antara kepentingan tertanggung dengan penanggung berdasarkan isi jaminan asuransi (terms and condition) merupakan tugas berat dari broker asuransi. Jika tidak dijembatani oleh broker, maka sulit untuk mendapatkan kesepakatan,” kata Taufik.

Dalam klaim tersebut di atas, baik tertanggung PT Victor Dua Tiga Mega maupun PT Hexa Finance Indonesia telah memilih L&G Insurance Broker sebagai perusahaan broker asuransi yang capable dan berpengalaman di bidang asuransi alat berat. L&G sudah sukses menyelesaikan ratusan klaim asuransi alat berat. Bahkan untuk PT Hexa Finance Indonesia, pada tahun 2015, L&G juga sukses menyelesaikan klaim sebesar US 1 juta atas klaim total loss 1 unit Excavator EX1200.

“Kami mengingatkan para pemilik alat berat, operator, perusahaan-perusahaan pembiayaan alat berat, para kontraktor dan perusahaan-perusahaan tambang, perkebunan dan bisnis-bisnis lain yang menggunakan alat berat bahwa resiko dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Pastikan selalu unit anda dijamin asuransinya, dan untuk mendapatkan hasil klaim yang terbaik selalu gunakan jasa perusahaan broker asuransi,” tutup Taufik. 

 

Related posts