Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Iklan Multi
Iklan Multi
Example 728x250
BusinessFeatureMiningTop News

Pendapatan dan Laba Bersih Emiten Batu Bara Turun

100
×

Pendapatan dan Laba Bersih Emiten Batu Bara Turun

Share this article
Example 468x60
Virus corona terus menggerogoti perusahaan-perusahaan tambang besar. Pendapatan dan laba bersih mereka selama kuartal pertama tahun ini turun. Bagaimana prediksi performa bisnis mereka pada kuartal berikutnya?
Ilustrasi excavator tambang Liebherr sedang memuat batubara ke dalam dump truck (Foto: Liebherr)

Sejumlah emiten batu bara sudah menyampaikan laporan keuangan kuartal pertama 2020. Dari lima emiten, tak satu pun yang pendapatannya naik. Mayoritas masih membukukan laba bersih, tetapi semuanya juga turun bila dibandingkan kuartal pertama 2019 lalu.

ALTRAK

Diperkirakan kondisi lebih mengenaskan terjadi pada kuartal kedua karena harga batu bara makin merosot seiring dengan berkurangnya permintaan global karena pandemi global Covid-19.

Emiten tambang batu bara plat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sepanjang kuartal pertama 2020 membukukan pendapatan sebesar Rp 5,12 triliun, turun 4,02% dari Rp 5,34 triliun pada kuartal pertama 2019 lalu.

PTBA memang masih membukukan laba bersih, tetapi turun dibandingkan yang diperoleh pada kuartal pertama 2019 lalu. Laba bersih kuartal pertama 2020 adalah Rp 903,25 miliar, turun 20,57% dari Rp 1,14 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Mayoritas (98,3%) pendapatan PTBA adalah dari penjualan batu bara. Pada kuartal pertama 2020 ini, pendapatan dari bisnis utama ini turun sebesar 1,87% menjadi Rp 5,04 triliun, dari Rp 5,13 triliun pada kuartal pertama 2019.

Manajemen PTBA dalam keterangan tertulis di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelaskan sebenarnya dari sisi volume, penjualan batu bara perseroan masih meningkat, yaitu 2,1% mejadi 6,8 juta ton, dari 6,6 juta ton pada kuartal pertama 2019 lalu.

Tetapi harga jual batu bara PTBA mengalami penurunan sebesar 3,9% menjadi Rp741.845,-/ton dari Rp772.058,-/ton pada kuartal pertama 2019 lalu. “Penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan harga batu bara Newcastle sebesar 29,5% maupun harga batu bara thermal Indonesia (Indonesian Coal Index / ICI) GAR 5000 sebesar 6,9% dibandingkan harga rata-rata kuartal pertama 2019,” jelas manajemen PTBA.

Baca Juga :  Tower Crane Potain untuk Pasar Asia

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) juga bernasib sama. Pendapatan ADRO pada kuartal pertama 2020 sebesar US$ 750,47 juta, turun 11,34% dari US$ 846,48 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih ADRO juga turun tajam sebesar 17,36% menjadi US$ 98,18 juta, dari US$ 118,8 juta pada kuartal pertama 2019.

Sebanyak 91,48% pendapatan ADRO berasal dari penjualan batu bara.  Pada kuartal pertama 2020, total pendapatan dari penjualan batu bara sebesar US$ 686,51 juta, turun 10,83% dari US$ 769,91 juta pada kuartal pertama 2019 lalu.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer ADRO, Garibaldi Thohir, dalam keterangan tertulis pada 14 Mei lalu mengungkapkan produksi batu  bara ADRO sebesar 14,41 juta ton, atau naik 5% dari kuartal pertama 2019 lalu. Sementara volume penjualan naik 8%  menjadi 14,39 juta ton pada kuartal pertama 2020. Namun, harga rata-rata batu bara yang dijual ADRO mengalami penurunan sebesar 17%.

“Harga batu bara yang lemah semakin tertekan oleh penurunan permintaan akibat melemahnya ekonomi global karena penerapan lockdown terkait Covid-19. Kedua segmen batu bara termal dan metalurgi di operasi pertambangan batu bara AE terdampak oleh hal ini seiring penurunan harga batu bara global,” jelas Garibaldi Thohir.

Penurunan pendapatan juga dialami oleh PT Bayan Resources Tbk (BYAN); PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Samindo Resources Tbk (MYOH). Pendapatan BYAN pada kuartal pertama 2020 sebesar US$ 326,28 juta, turun 10,71% dari US$ 365,42 juta pada kuartal pertama 2019. Laba bersih BYAN juga turun bahkan cukup signifikan yaitu 57,8% menjadi US$ 35,55 juta, dari US$ 84,23 juta pada kuartal pertama 2019. Pendapatan dari penjualan batu bara BYAN yang berkontribusi sebesar 99,41%, turun 10,06% menjadi US$ 324,27 juta, dari US$ 360,67 juta pada kuartal pertama 2019 lalu.

Baca Juga :  Superior Industries Berekspansi ke Asia Tenggara

Penurunan pendapatan yang cukup dalam dialami oleh PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), yaitu turun sebesar 19,23% pada kuartal pertama 2020 menjadi US$ 365,9 juta dari US$ 453,03 juta pada kuartal pertama 2019. Perolehan laba bersih ITMG juga cukup signifikan yaitu sebesar 61,24% menjadi US$ 15,4 juta dari US$ 39,74 juta pada kuartal pertama 2019.

Penjualan batu bara ITMG yang berkontribusi sebesar 92,55% turun sebesar 20,18% menjadi US$ 338,64 juta, dari US$ 424,27 juta pada kuartal pertama 2019.

Bila empat emiten batu bara di atas masih bisa mendapatkan laba bersih di tengah kondisi pasar batu bara yang lesu ini, lain halnya dengan PT Samindo Resources Tbk yang mengalami rugi bersih. Pendapatannya emiten dengan kode saham MYOH ini turun 18,53% pada kuartal pertama 2020 menjadi US$ 49,91 juta, dari US$ 60,66 juta pada kuartal pertama 2019.  Pada kuartal pertama 2020 ini, MYOH juga mengalami rugi bersih sebesar US$ 2,41 juta. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, masih mencatatkan laba bersih sebesar US$ 8,39 juta.

Kuartal II Diproyeksikan Makin Lesu
Beberapa excavator besar di lokasi tambang batubara (Foto: EI)

Kondisi kelesuan pasar batu bara ini diperkirakan lebih parah terjadi pada kuartal kedua (April-Juni) di mana tak hanya permintaan global yang turun, tetapi aktivitas pertambangan di dalam negeri juga berkurang pada kuartal kedua ini seiring dengan penerapan berbagai protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

PT Bayan Resources Tbk, misalnya menghentikan aktivitas pertambangan di Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur sejak 25 Maret lalu.

Manajemen PTBA menyatakan Covid-19 yang terjadi sejak akhir tahun 2019 lalu sebenarnya belum memberikan dampak yang signifikan pada kinerja keuangan kuartal pertama 2020 lalu. Namun memasuki periode kuartal kedua 2020, dampak dari semakin meluasnya penyebaran Covid-19 mulai dirasakan oleh Perseroan.

Baca Juga :  Altrak 1978 gelar pelatihan untuk electrician & teknisi

“Hal ini diindikasikan dari berkurangnya permintaan pasokan batu bara dari pasar ekspor maupun domestik. Menyikapi hal tersebut PTBA saat ini sedang mempersiapkan revisi target dan racikan strategi yang tepat guna mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang diprediksi akan terjadi ke depan,” tulis manajemen PTBA.

Sebelum ada Covid-19, manajemen PTBA merencanakan produksi batu bara sebesar 30,3 juta ton sepanjang 2020 atau naik 4% dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 29,1 juta ton.

Sedangkan untuk volume penjualan batu bara sepanjang 2020, PTBA menargetkan untuk meningkatkannya menjadi 29,9 juta ton, yang terdiri dari penjualan batu bara domestik 3 sebesar 21,7 juta ton dan penjualan batu bara ekspor sebesar 8,2 juta ton atau secara total sebesar 29,9 juta ton, meningkat 8% dari realisasi penjualan batu bara pada 2019 lalu.

Iklan Berca