Equipment APP.
back to top
Wednesday, January 7, 2026
spot_img
More
    HomeBusinessPrediksi Pasar Alat Berat Tahun 2026

    Prediksi Pasar Alat Berat Tahun 2026

     

    Jakarta, Equipment Indonesia – Penjualan alat berat diperkirakan akan tetap tumbuh moderat pada 2026 seiring semakin gencarnya program-program strategis pemerintah, di antaranya proyek-proyek food estate, pembangunan jalan tol, serta masih tetap tingginya kebutuhan alat di sektor pertambangan. 

    Prediksi pasar alat berat yang optimistis itu disampaikan Immawan Priyambudi, Ketua IV Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI), dalam acara Bincang Perspektif Trakindo baru-baru ini. Dia memproyeksikan industri alat berat berpotensi tumbuh 5%-10% pada tahun 2026. “Secara umum industri alat berat pada tahun 2026 berpotensi tumbuh 5%-10%. Ekspektasi ini seiring perbaikan aktivitas proyek-proyek pemerintah,” ujarnya.

    Menurut catatan PAABI, hingga akhir 2025, diproyeksikan total kebutuhan alat berada di kisaran 23.000 unit, terbagi pada lebih dari 10 merek yang beroperasi di Indonesia saat ini. “Penjualan alat berat baru sampai akhir tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 23.000 unit. Jika dibandingkan dengan capaian 2024, volume penjualan alat berat diproyeksikan turun sekitar 5%,” katanya.

    Setelah mengalami kontraksi pada tahun 2025, Immawan memperkirakan permintaan alat berat bakal naik pada tahun 2026. Meski level pertumbuhannya hanya moderat pada kisaran 5%-10% pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025.

    “Melihat situasi politik dan ekonomi, kami juga tidak berharap ada growth yang cukup tinggi. Tapi kami melihat ada sedikit optimisme di sana, karena masih ada proyek-proyek strategis pemerintah yang menjadi peluang cukup besar untuk menggerakkan industri alat berat,” terang Immawan.

    Selain permintaan dari sektor tambang, proyek strategis pemerintah juga menjadi incaran para pelaku industri alat berat. Antara lain proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall), food estate, serta proyek infrastruktur, termasuk pembangunan jalan tol.

    Baca Juga :  Caterpillar investasi di bidang transisi energi truk tambang

    Untuk 2026, Immawan memproyeksikan pasar alat berat masih berada dalam tekanan secara umum. Meski begitu peluang pertumbuhan tetap ada, terutama berkat sejumlah proyek pemerintah seperti tanggul laut raksasa dan program lumbung pangan (food estate).

    “Tapi kita melihat at least ada sedikit optimisme di sana karena proyek-proyek strategis pemerintah saat ini termasuk giant sea wall, food estate, pembangunan tol dan segala macam itu masih menjadi opportunity yang cukup besar buat kita,” tuturnya.

    Menurut Immawan, permintaan alat berat terjun cukup dalam pada semester II-2025 setelah sempat melonjak pada semester I-2025. Pelaku industri mencermati potensi penjualan alat berat akan kembali terangkat dengan level pertumbuhan yang moderat pada tahun 2026. 

    Pada semester I-2025, penjualan unit baru alat berat mampu melonjak sekitar 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hanya saja, permintaan alat berat mulai melandai sejak memasuki semester II-2025.

    Immawan menyoroti dua faktor utama yang menekan permintaan alat berat pada semester II-2025. Pertama, penurunan harga komoditas tambang. Meski ada lonjakan permintaan dari sektor kehutanan dan perkebunan seiring dengan proyek lumbung pangan, tapi sektor pertambangan masih cukup dominan menyetir permintaan alat berat. Secara nilai, ia menggambarkan bahwa 60%-70% penjualan alat berat masih didominasi oleh sektor pertambangan. 

    Kedua, Immawan menyoroti persaingan yang semakin sengit di industri alat berat, terutama dengan semakin marak penetrasi merek-merek China. “Sampai semester I-2025, market growth itu sekitar 31%, hampir semua pemain alat berat merasakannya. Tapi, begitu masuk bulan Juli, terjadi penurunan. Proyeksi sampai akhir tahun 2025 mungkin akan turun,” ujarnya. @

     

    RELATED ARTICLES

    Most Popular

    Recent Comments