Kecermerlangan sektor tambang, khususnya batubara, mendongkrak kinerja emiten alat berat. Harga batubara yang pada November 2022 ini bertengger di level US$308,2 per ton, menyebabkan permintaan alat berat tetap tinggi hingga akhir tahun.

Tengok saja laporan keuangan empat emiten alat berat selama periode Januari – September 2022, yakni PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA), PT Intraco Penta Tbk (INTA) dan PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX).
Laba bersih UNTR misalnya, melonjak 103% menjadi Rp15,9 triliun, dibandingkan sebesar Rp7,8 triliun perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tajam laba bersih anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini, demikian Sara K. Loebis, Corporate Secretary UNTR, seiring lonjakan pendapatan bersih sebesar Rp91,5 triliun. Capaian ini melesat sebesar 58% dari Rp57,8 triliun pada periode yang sama tahun 2021.
“Masing-masing segmen usaha yaitu mesin konstruksi, kontraktor tambang, pertambangan batubara, pertambangan emas dan industri konstruksi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 30%, 36%, 27%, 6% dan 1% terhadap total pendapatan bersih konsolidasian,” ujar Sara dalam penjelasan laporan kinerja Perseroan, dikutip Senin (7/11).
Sara mengatakan, segmen usaha mesin konstruksi mencatat peningkatan penjualan alat berat Komatsu sebesar 107% menjadi 4.534 unit dibandingkan tahun lalu sebesar 2.194 unit. Berdasarkan riset pasar internal, Komatsu memimpin pangsa pasar alat berat sebesar 28%. Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat juga mengalami peningkatan sebesar 35% menjadi Rp7,5 triliun.
Asal tahu, UNTR mengerek target penjualan alat berat hingga akhir tahun 2022. UNTR menargetkan penjualan alat berat Komatsu sebanyak 5.500 unit dari semula 4.800 unit. Dengan demikian, hingga September 2022, UNTR telah merealisasikan 82,43% dari target penjualan alat berat tahun ini.
Sepanjang 2022, UNTR mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$750 juta – US$800 juta. Nilai ini naik lebih dari 295% dibandingkan dengan capex 2021, yaitu US$ 190 juta.
Alokasinya sebagian besar untuk mendukung belanja modal di bisnis mining services dan mining sekitar US$570 juta, dan tambang emas dan pengembangan infrastruktur pabrik sekitar US$170 juta. Sisanya US$60 juta untuk bisnis lainnya.
Menurut Sara, penjualan UD Trucks mengalami penurunan, dari 340 unit menjadi 331 unit, dan penjualan produk Scania turun dari 471 unit menjadi 152 unit. Penurunan penjualan pada kedua merek tersebut disebabkan oleh adanya kendala pasokan produk. “Secara total, pendapatan bersih dari segmen usaha Mesin Konstruksi meningkat sebesar 74% menjadi Rp27,4 triliun dibandingkan pada periode yang sama tahun 2021,” jelasnya.
Untuk segmen usaha kontraktor penambangan, lanjut Sara, dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Hingga September 2022, kontraktor penambangan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp33,2 triliun, naik 37% dari Rp24,2 triliun. PAMA mencatat penurunan volume produksi batubara sebesar 5% dari 88 juta ton menjadi 83 juta ton, dan peningkatan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) sebesar 10% dari 630 juta bcm menjadi 691 juta bcm, dengan rata-rata stripping ratio sebesar 8,3x meningkat dari 7,2x.
Terkait segmen usaha pertambangan batubara, lanjut dia, dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA). Sampai dengan September 2022 total penjualan batubara mencapai 7,8 juta ton, termasuk 1,6 juta ton batubara metalurgi, atau sedikit meningkat apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 sebesar 7,7 juta ton. Didorong oleh meningkatnya rata-rata harga jual batubara, pendapatan segmen usaha pertambangan batubara meningkat sebesar 138% dibandingkan periode yang sama di tahun 2021 menjadi Rp24,4 triliun.
Sara mengemukakan, segmen usaha pertambangan emas dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) yang mengoperasikan tambang emas Martabe di Sumatera Utara. Hingga September 2022, total penjualan setara emas dari Martabe mencapai 216 ribu ons. Ini turun 16% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 sebanyak 258 ribu ons. Penurunan tersebut dipicu oleh adanya penurunan kadar emas yang ditambang.
“Pendapatan bersih segmen usaha pertambangan emas turun 11% dari Rp6,5 triliun menjadi Rp5,8 triliun. Rata-rata harga jual emas pada triwulan ketiga tahun 2022 sebesar US$1.826 per ons meningkat sebesar 4% dari US$1.750 per ons.
Segmen usaha industri konstruksi dijalankan oleh PT Acset Indonusa Tbk (ACSET). Sampai dengan bulan September 2022, industri konstruksi membukukan pendapatan bersih sebesar Rp729 miliar, tergerus dari Rp1,1 triliun pada periode yang sama tahun 2021.
ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp227 miliar, turun dibandingkan rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp386 miliar. Kerugian bersih terutama disebabkan oleh perlambatan beberapa proyek yang sedang berlangsung dan berkurangnya kontrak baru.
Sejalan dengan strategi pengembangan usaha di sektor energi yang ramah lingkungan, Perseroan telah menetapkan bisnis energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai salah satu strategi transisi Perseroan. Untuk mempercepat pengembangan EBT, pada akhir tahun 2021 seluruh bisnis energi dalam grup dikonsolidasikan melalui PT Energia Prima Nusantara (EPN).
Selama periode Januari – September 2022, EPN telah memasang Rooftop Solar PV mencapai 5,2 MWp dan 837 kWp sedang dalam proses instalasi. Perseroan saat ini mengoperasikan satu pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM), yaitu PLTM Kalipelus berkapasitas 0,5 MW di Jawa Tengah, dan sedang membangun pembangkit listrik tenaga minihidro lainnya, yakni PLTM Besai Kemu di Lampung, Sumatra. PLTM Besai Kemu memiliki kapasitas sebesar 7 MW dan diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2023.
“Selain itu, Perseroan juga menargetkan beberapa proyek pembangkit listrik tenaga minihidro di area Sumatra dengan total potensial kapasitas lebih dari 20 MW. Pada bulan Agustus 2022, Perusahaan melalui anak usaha melakukan investasi pada PT Arkora Hydro Tbk (Arkora) dengan kepemilikan saham sebesar 31,49%. Arkora saat ini mengoperasikan dua PLTM, yaitu PLTM Cikopo 2 di Jawa Barat dengan kapasitas 7,4 MW dan PLTM Tomasa 10 MW di Sulawesi Selatan,” paparnya.
Menurut Sara, Arkora juga sedang membangun dua PLTM, yaitu PLTM Koro Yaentu berkapasitas 10 MW dan PLTM Kukusan 2 berkapasitas 5,4 MW yang masing-masing diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2023 dan 2024. Setelah kedua PLTM ini beroperasi nanti, Arkora akan memiliki pembangkit listrik dengan total kapasitas terpasang sebesar 32,8 MW. Perseroan juga berencana melakukan pengembangan proyek energi terbarukan lainnya seperti hydropower, solar PV, geothermal, wind power dan waste-to-energy. Proyek-proyek ini konsisten dengan strategi Perseroan untuk meningkatkan kompetensi di berbagai potensi energi terbarukan dalam rangka mencapai portofolio bisnis yang berkelanjutan.

Selanjutnya, manajemen PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) optimistis prospek bisnis di tahun fiskal 2022 (periode April 2022 – Maret 2023) berpotensi lebih baik dibanding periode sama tahun sebelumnya. Dengan optimisme tersebut, emiten yang bergerak di bidang perdagangan alat-alat berat dan pelayanan purna jual dengan merek utama Hitachi itu menetapkan angka proyeksi penjualan sebesar US$531,9 juta untuk periode April 2022 – Maret 2023.
Direktur HEXA, Dwi Sasono, dalam acara public expose yang digelar di Jakarta, dikutip Senin (7/11), mengatakan, apabila market trend-ya terus positif, pihaknya akan evaluasi mengarah ke naik, apabila sebaliknya tentu harus realistis.
Angka proyeksi penjualan HEXA untuk periode April 2022 – Maret 2023 lebih tinggi 14,8% dibanding realisasi penjualan tahun fiskal 2021. Pada April 2021 – Maret 2022, penjualan bersih HEXA sebesar US$463,26 juta.
HEXA optimistis, tingginya harga komoditas tambang, khususnya batubara, bisa mendorong permintaan alat berat. Untuk itu, HEXA menyiapkan sejumlah strategi untuk meraih berkah di segmen pasar pertambangan. “Di tengah tingginya harga komoditas, kami coba mengeruk peluang segmen pertambangan,” katanya.
Pada periode enam bulan yang berakhir pada 30 September 2022, HEXA telah membukukan penghasilan neto sebesar US$262,62 juta, melesat sebesar 47% jika dibandingkan penghasilan neto HEXA di periode yang sama tahun fiskal 2021 sebesar US$178,64 juta.
Mayoritas penghasilan neto tersebut berasal dari penjualan alat berat yang mencapai US$169,35 juta atau setara 64,48% dari total penghasilan neto HEXA per September 2022, atau tumbuh 66,19%, dari US$101,90 juta per September 2021. Sedangkan sisanya berasal dari lini usaha penjualan suku cadang, jasa pemeliharaan dan perbaikan, serta jasa penyewaan alat berat.
Penjualan alat berat di semester pertama tahun fiskal 2022 didominasi oleh penjualan excavator yang jumlahnya mencapai 1.249 unit, naik 38,47% dari periode sama tahun 2021 sebanyak 902 unit. Kemudian diikuti oleh penjualan 271 unit mini excavator, meningkat 104% dibandingkan periode sama 2021 sebanyak 133 unit, dan sebanyak 20 unit wheel loader, serta 16 unit Bell Product. Sebagian besar penjualan excavator tersebut menyasar sektor agro, tambang, konstruksi, forestry, dan lain-lain.
Laba usaha HEXA tumbuh 1,34%, dari US$29,16 juta per September 2021 menjadi US$29,55 juta per September 2022. Namun di tengah naiknya penghasilan neto, laba tahun berjalan emiten beraset US$381,92 juta per 30 September 2022 itu turun tipis 1,57% menjadi US$22,63 juta, dari periode sama sebelumnya sebesar US$22,99 juta. Penurunan laba HEXA dipicu oleh melambungnya beban bunga sebesar 690,87%, dari US$68.657 menjadi US$542.988 per September 2022.

Bagaimana dengan PT Intraco Penta Tbk (INTA) dan PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX)? INTA menanggapi optimistis bisnis alat berat hingga akhir tahun ini. Petrus Halim, Direktur Utama INTA, dalam paparan publik insidentil melalui aplikasi Zoom Meeting di Jakarta, dikutip Senin (7/11), mengemukakan strategi Perseroan ke depan adalah mengoptimalkan usaha perdagangan alat berat dan mendorong penjualan suku cadang dengan jaringan bisnis yang tersebar di Indonesia.
Perseroan juga mengajukan restrukturisasi kepada kreditur guna menjaga arus kas. Tidak itu saja. Perseroan terus melakukan efisiensi biaya operasional dan reorganisasi, melanjutkan upaya diversifikasi bisnis utama ke sektor industri lainnya selain industri pertambangan.
INTA menargetkan capex untuk barang modal sebesar Rp52,5 miliar pada 2022. Sebagian besar dari capex itu untuk pembelian alat berat dan disewakan kembali. Namun, saat ini, INTA belum signifikan merealisasikan capex tersebut, karena Perseroan memutuskan untuk melanjutkan program maintenance alat berat yang dimiliki dibandingkan melakukan pembelian barang modal.
Perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp800 miliar pada 2022. Target pendapatan ini berasal dari segmen alat berat Rp752,4 miliar, manufaktur Rp17,8 miliar dan pembangkit tenaga listrik Rp29,8 miliar.
Hingga Juni 2022, INTA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp334,35 miliar. Jumlah ini meningkat 18,30% dibandingkan pendapatan usaha INTA sebesar Rp282,62 miliar per Juni 2021.
Mayoritas pendapatan usaha INTA di paruh pertama 2022 disumbangkan oleh penjualan alat-alat berat sebesar Rp168,14 miliar, kemudian diikuti oleh penjualan suku cadang sebesar Rp102,59 miliar. Selain itu, INTA juga mencetak pendapatan jasa persewaan sebesar Rp45,85 miliar per Juni 2022.
Hingga akhir semester I-2022, INTA masih menderita rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp40,15 miliar. Namun, angka ini menyusut 56,61% dibandingkan sebesar Rp92,54 miliar di semester I-2021.
PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) juga optimistis dan terus mengejar peluang dengan memperkuat diversifikasi. KOBX masuk segmen konstruksi dengan menghadirkan mesin pembuat jalan Dynapac.
Diversifikasi alat berat non pertambangan ini menambah panjang lini produk yang dipasarkan sebelumnya seperti truk komersial Mercedes Benz Axor, Doosan portable air and power solution dan material handling equipment Jungheinrich.
Hingga akhir Juni 2022, KOBX membukukan laba bersih sebesar US$4,5 juta, tumbuh 61,5% dibandingkan periode yang sama 2021 sebesar US$2,79 juta. Naiknya pendapatan menjadi pemicu pertumbuhan laba KOBX.
Direktur Utama KOBX, Andry B Limawan, mengatakan sepanjang enam bulan pertama 2022, KOBX membukukan pendapatan sebesar US$81,09 juta, tumbuh 43,77% dibandingkan periode yang sama 2021 sebesar US$56,40 juta. “Melonjaknya laba bersih tidak lepas dari solidnya penjualan alat berat,” ujarnya dalam penjelasan laporan kinerja Perseroan, dikutip Senin (7/11).


