26.2 C
Jakarta
25 Okt, 2021.

Prediksi Penjualan Alat Berat Indonesia 2021

PAABI memprediksikan penjualan alat berat Indonesia tumbuh 15 persen pada tahun 2021 asalkan didukung oleh kesiapan produksi dari HINABI dan lembaga-lembaga pembiayaan (leasing).

Ketua Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI), Etot Listyono. (Dok. pribadi)

Hampir semua lini bisnis yang terkait dengan alat berat saat ini sedang menghadapi situasi yang serba tidak pasti. Memasuki tahun kedua pandemi Covid-19, masih banyak industri mengurangi dan bahkan menghentikan kegiatan-kegiatannya. Hingga kini belum ada gambaran yang jelas tentang proyek-proyek baru skala besar yang menyerap banyak alat berat pada tahun ini, meski pemerintah sudah mengalokasi anggaran yang jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu untuk pembangunan infrastruktur. Sementara itu, laju pandemi Covid-19 masih tinggi, meski pemerintah sudah memulai program vaksinasi. Bagaimana gambaran pasar alat berat pada 2021 ini? Apakah masih ada ruang untuk kembali bangkit dari keterpurukannya pada tahun 2020?

Berbicara dalam acara Zoom Webinar Equipment Indonesia bertema “Outlook Industri Alat Berat Indonesia Tahun 2021’, Rabu (10/2), Ketua Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI), Etot Listyono, mengatakan pertumbuhan pasar alat berat ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah mengendalikan laju pandemi Covid-19. “PAABI mendukung upaya pemerintah untuk mempercepat penanganan Covid-19, terutama mempercepat pelaksanaan program vaksinasi nasional sehingga ke depan tidak ada lagi pembatasan jumlah orang,” ujarnya.

Kalau makin banyak orang yang divaksin, kata dia, diharapkan pendemi ini semakin terkendali sehingga orang-orang dapat bekerja sebagaimana biasanya sehingga perekonomian mulai tumbuh bagus, dan pengerjaan proyek-proyek infrastruktur dapat dilanjutkan.

Pandemi Covid-19 membuat pasar alat berat tertekan pada tahun 2020. Menurut Etot, kondisi pandemi Covid-19 dan produksi komoditi tahun 2020 sangat berpengaruh terhadap penjualan unit-unit alat berat PAABI. Berdasarkan data PAABI, ia melaporkan, penjualan alat berat anggota-anggotanya setahun lalu turun sekitar 30,8% dari tahun 2019, turun menjadi 7.200 unit dari sebelumnya sebanyak 10.400.

Penurunan pasar itu disumbangkan oleh hampir semua sektor yang mengandalkan aplikasi alat berat. Penjualan ke sektor agro sebanyak 830 unit, turun sekitar 22% dari 2019.  Penurunan itu, kata Etot, disebabkan karena pada semester pertama terjadi penurunan harga CPO (crude palm oil), dari USD700/ton menjadi USD500/ton. Tapi pada semester kedua terjadi peningkatan dari USD700/ton ke USD900/ton pada akhir tahun. “Peningkatan ini dipicu oleh permintaan Cina yang signifikan pada akhir tahun,” ujarnya.

Excavator-excavator Komatsu yang dipasarkan oleh PT. United Tractors Tbk. (Foto: EI)

Produksi CPO pada tahun 2020 turun dari target, sekitar 40 juta ton. Meski turun, kekurangannya di-cover oleh stok yang ada. “Dengan turunnya harga CPO pada semester pertama, para pemain di industri perkebunan kelapa sawit menahan diri untuk melakukan investasi, seperti investasi peralatan untuk perluasan lahan dan sebagainya. Itu sebabnya penjualan alat berat di sektor agro ikut terseret,” kata Etot.

Di sektor forestry, kondisinya sedikit berbeda. Pasarnya relatif tetap stabil, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2020 sekitar 5%, dari 1.350 unit pada tahun 2019 menjadi 1.200 unit pada tahun 2020.

Penjualan alat berat ke sektor konstruksi mencapai 3.500 unit atau turun 20 persen dari tahun 2019. Menurut Etot, penurunan itu disebabkan karena terjadi realokasi budget pemerintah untuk penanganan pandemi Covid-19, dari Rp 414 Triliun menjadi Rp 280 Triliun. Dari segi proyek, dari total 36 proyek yang ditargetkan pada tahun 2020, hanya tiga proyek saja yang selesai. Kemudian untuk proyek-proyek KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), budgetnya turun dari Rp 94 Triliun menjadi Rp 82 Triliun.

Penurunan yang paling signifikan terjadi di sektor mining (pertambangan). Total penjualan pada tahun 2020 sebanyak 1.600 unit atau turun 55% dari tahun 2019. Ini penurunannya signifikan sekali karena ekspor thermal coal mengalami penurunan, sekitar 30 juta ton. Kemudian harga batu bara, untuk Global Contract Newcastle Index di level US$48 per metrik ton. Bahkan untuk ICI 4 (Indonesian Coal Index), yang notabene paling banyak diproduksi di Indonesia, harganya di level US$ 22,65 per metrik ton. Namun, pada penghujung tahun terjadi peningkatan harga batu bara. “Dalam kondisi harga batu bara yang turun, alat-alat milik kontraktor-kontraktor tambang cenderung standby, khususnya untuk kegiatan produksi,” kata Etot.

Beralih ke sektor mineral, nikel merupakan komoditas tambang yang pesat kemajuan industri hilirnya. Pada tahun 2020, pemerintah menargetkan untuk membangun 28 smelter, namun hingga akhir tahun baru 19 smelter yang sudah dibangun. Idealnya, semakin banyak smelter yang sudah dibangun, kebutuhan bijih nikel pun makin banyak, dan permintaan alat berat pun semakin banyak. Namun, kebijakan pembatasan ekspor nikel tahun lalu membuat produksinya menurun.

Prospek pasar 2021

Berbagai tipe hydraulic excavator Kobelco yang diageni oleh PT. Daya Kobelco CMI. (Foto: EI)

Menjelaskan tentang prospek penjualan alat berat pada tahun 2021 ini, Etot merujuk pada beberapa kondisi makro yang ada. Untuk sektor agro, PAABI memprediksikan harga CPO masih stabil di level USD 800 per ton. Produksi juga naik, sekitar 46 juta ton. Kemudian ada beberapa proyek, seperti food estate yang sedang digalakkan oleh pemerintah. Terdapat dua lokasi food estate yang telah mulai digarap tahun ini yakni di Kalimantan Tengah dan di Sumatra Utara. Sektor forestry diperkirakan relatif stabil.

Bagaimana dengan sektor konstruksi? Sebagaimana diketahui, pemerintah sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 414 Triliun untuk proyek-proyek infrastruktur. Tahun ini terdapat sekitar 30 proyek yang harus  diselesaikan, khusus untuk jalan tol dan pembangkit listrik.

Untuk pertambangan, Etot menyatakan sangat antusias dengan harga batu bara yang masih stabil pada level di atas USD85. Ditambah lagi dengan adanya kontrak antara Indonesia dan Cina untuk ekspor batubara sebanyak 200 juta ton atau sekitar Rp 20 Triliun, sebagai dampak dari keretakan hubungan antara Cina dan Australia. Kemudian, beberapa pemilik PKP2B juga akan diperpanjang operasinya, yaitu Arutmin dan KPC.

Untuk nikel, masih ada tujuh pabrik pengolahan yang pending dan harus rampung tahun ini. Sementara harga nikel sudah mulai naik dari USD 11.000 per ton menjadi USD 16.775 per ton.

“Kondisi-kondisi tersebut menjadi sinyalemen untuk meningkatnya permintaan alat berat tahun ini, sehingga kami di PAABI memprediksikan untuk menaikkan kebutuhan alat berat untuk tahun 2021 dengan kenaikan sekitar 15% atau sebanyak 8300 unit. Hal ini menjadi secercah harapan karena tahun 2020 yang lalu merupakan masa yang sulit dan diharapkan pada tahun 2021 ini kondisinya membaik,” ucapnya berharap.

Namun, untuk mewujudkan kenaikan penjualan alat berat sebanyak 15 persen seperti yang diharapkan, Etot menambahkan, dibutuhkan dukungan kapabilitas produksi dari HINABI dan dukungan dari perusahaan-perusahaan pembiayaan (leasing). “Kalau demand naik, pasokan tersedia, tentunya dukungan dari pihak leasing sangat penting dan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh aktivitas kami pada saat penjualan unit,” ia menyimpulkan. EI

Related posts